Menuju Penetapan Iwan, Petani Miskin yang Dipenjara Karena Membakar Lahan Untuk Bertani, GAM Rohul Angkat Bicara

809

PASIRPENGARAIAN – Menyikapi ditangkapnya Iwan, petani miskin Desa Muara Musu Kecamatan Rambah Hilir yang harus berurusan dengan polisi karena ‘Memorun’ lahan, Gerakan Alumni dan Mahasiswa Rokan Hulu (GAM Rohul) membuat petisi bebaskan Iwan. Jumat (07/02/2020)

Koordinator GAM Rokan Hulu, Rio Andri mengungkapkan penegak hukum harus cermat dalam hal ini, karena kita melihat yang dilakukan oleh Iwan adalah tradisi yang turun temurun untuk menyambung hidup dipedesaan.

” Sudah menjadi Kearifan lokal membakar dengan menumpukkan kayu (Momorun) tersebut di kampung kami, kita hanya  minta Pengadilan Negeri Rohul memperhatikan aspek budaya dan kearifan lokal  jangan telan mentah-mentah persoalan ini,” jelas  Rio

Sedangkan Demisioner Himpunan Mahasiswa Rokan Hulu Riau ( Himarohu Riau) Abu bakar meminta Iwan segera dibebaskan.

” Satu yang kami pinta, bebaskan Iwan, ia bukan korporasi yang merusak lingkungan, Dia Memorun hanya untuk menyambung hidup sebagai petani, di Riau banyak korporasi yang merusak lingkungan tidak juga ditindak, tapi kenapa petani yang tidak sampai satu hektar kok ditangkap,kami minta penegak hukum lihat kearifan lokal di Rokan Hulu,” Lanjut Abu.

M.Raffi Gubernur Mahasiswa Fakultas Tarbiah dan keguruan UIN Suska Riau mengatakan jika dibutuhkan masa untuk aksi, dia siap membawa mahasiswa lain untuk membantu Iwan dalam pembebasannya.

” Jangan pancing darah pergerakan Mahasiswa Riau ,kami minta Iwan dibebaskan ,masih banyak yang harus diproses selain dia, kami minta Pihak penegak hukum jangan tumpul keatas dan tajam kebawah,” Lanjut Raffi

Rencananya, Senin (10/02/2020) mendatang gabungan mahasiswa Rohul akan melaksanakan Aksi di depan Mapolda untuk membela petani.

” Kita juga berharap Penegak hukum jangan kambing hitamkan petani kecil dalam persoalan asap yang melanda Riau,” jelas Raffi

Ditempat yang sama, Muhammad Syukri Presiden RPPM Rokan Hulu juga berdalih yang sama tentang Iwan.

” Iwan adalah warga tidak mampu, makanya dia momorun lahannya ,kalau di steking tidak ada biaya ,seharusnya penegak hukum jeli melihat itu, kami selaku warga Rambah Hilir meminta Iwan dibebaskan karena dia adalah tulang punggung keluarganya,” jelas Sukri.

Syukri juga menjelaskan Kronologis kejadian atas Iwan,

– Setelah puasa Iwan melakukan pembersihan lahan, yang dahulunya sudah pernah dibuka. Pembersihan ini bukan dalam bentuk melakukan imbas tumbang, karena lahan yang dibuka bukan hutan melainkan bekas hutan.

– luas lahan diperkirakan kurang dari 1 ha, yg dibakar dlm 3 tahap.

– Bulan 6 mulai bakar tahap pertama

– Bulan 7 lanjut membakar tahap kedua

– Bulan 8 lanjut membakar sisa dari pembakaran dua tahap sebelumnya

– Membakar yang dimaksud bukan dalam bentuk “Mumaka” (membakar lahan secara besar-besaran\robuew\lahan yang kering setelah dilakukan imbas tumbang), tetapi dalam bentuk “Mumorun” (membakar dengan cara mengumpulkan sisa2 kayu yang di bakar terdahulu dalam satu kumpulan atau disebut juga menumpuk, atau membakar dengan cara menyekat2 dalam seketan yg kecil)

– Pembakaran tahap tiga Iwan tertangkap dalam razia gabungan antara polisi (polsek & polres) serta babinsa & BNPB dan dibawa ke Polsek Kecamatan Rambah Hilir pada 20 Agustus 2019 pukul 14.30

– Pada pukul 17.30 Iwan dibawa ke Polres Rohul

– Saat ini Iwan masih di tahan dan menjalani persidangan menuju penetapan.