‘Assalamualaikum’ Mau Diganti, Achmad MSi Angkat Bicara

184

JAKARTA – Pernyataan ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tentang rencana merubah assalamualaikum menjadi salam Pancasila menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen Nusantara.

Menurut Yudian Wahyudi, perlunya salam Pancasila di tempat umum sebagai titik temu di antara salam masing-masing agama yang ada di Indonesia.

“ Kalau kita salam setidaknya harus ada lima sesuai agama-agama. Ini masalah baru kalau begitu. Kini sudah ditemukan oleh Yudi Latif, yang menyapa dengan Salam Pancasila. Saya sependapat,” kata Yudian Wahyudi.

“Ada hadits kalau anda jalan, ada orang yang sedang duduk, maka Anda harus mengucapkan salam. Itu maksudnya adaptasi sosial. Itu di zaman agraris, Sekarang jaman industri digital lagi,” tambahnya.

Meihat hal ini, anggota Komisi VIlI DPR RI, Achmad MSi berharap BPIP dapat memberikan sosialisasi dan penerapan Pancasila kepada masyarakat, bukan memberikan statement atau retorika-retorika yang berujung kepada kegaduhan.

” Sebenarnya, hal yang paling terpenting itu adalah bagaimana mengaplikasikan roh Pancasila itu kepada masyarakat, bukan mengeluarkan statement yang berujung kegaduhan,” jelas Bupati Rohul dua periode itu. Jumat (21/02/2020)

“Jangan bikin gaduh teruslah, kemarin sebut agama musuh Pancasila, sekarang mau ganti pula assalamualikum dengan salam Pancasila. Saya tahunya yang sudah ada itu Salam Pramuka dan Salam merdeka,” tambahnya.

Bupati yang berhasil membangun masjid Islamic Center Rokan Hulu itu beranggapan persoalan tentang toleransi beragama lebih kepada harmonisasi hubungan, saling menjaga, saling pengertian dan saling menghargai diantara satu dengan yang lainnya.

” Kuncinya, masing-masing agama menjalankan nilai-nilai sesuai dengan agamanya masing-masing, bak hadist nabi, ‘bagiku agamaku, bagimu agamamu,’ jadi jangan keluarkan statement yang berujung melukai perasaan umat,” jelasnya panjang lebar kepada Riausmart.com

Menurut Achmad, Persoalan keagamaan tidak pernah terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, hal ini dikarenakan tidak adanya statement-statement dari masing-masing tokoh yang berujung kepada kegaduhan.

” Jadi kita berharap kepada tokoh-tokoh, apabila statement yang dikeluarkan berujung kepada kegaduhan, lebih baik jangan beri statement, kalaupun beri pendapat, lebih baik beri pendapat yang sejuk,” tutup Achmad