Nasib Malang Keenam Bocah Yang Ditinggal Mati Kedua Orang Tuanya

304

BALIKPAPAN – Reski, jodoh, dan maut adalah hal yang tidak dapat diprediksi dipermukaan bumi ini, hal inilah yang terjadi di Kalimantan Timur ( Kaltim ), kota Balik Papan Selatan, Kelurahan Sepinggan, disaat suami istri meninggal dihari yang sama.

Meninggalnya suami istri ini menyisakan kisah pilu terhadap keenam anaknya yang masih terbilang kecil.

Umur anak dari pasangan suami istri ini terbilang beragam, mulai yang paling tua berumur 13 tahun atau kelas 6 SD, dan yang paling belia berumur 2 bulan.

Kini keenam anak itu dirawat oleh kakek dan nenek mereka bernama Mustafa (53) dan Wa Ode Rusdiana (52).

Seperti yang dikutip dari Tribunnews, Selasa (25/02/2020) yang lalu, Rusdiana menceritakan kedua orangtua keenam bocah ini meninggal dunia pada Minggu (23/2/2020) kemarin lantaran terserang hipertensi (tekanan darah tinggi).

Ia mengatakan almarhumah merupakan putrinya bernama Siti Haryanti.

Ketika itu Siti sebelumnya sebelumnya melahirkan anak ke enam buah cintanya bersama sang suami.

Namun setelah beberapa hari kemudian, almarhumah Siti kerap kali mengalami ketidakstabilan tensi darah saat dilakukan pemeriksaan di rumah sakit.

Hal itulah menjadi awal kondisi Siti yang terus menurun dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia Minggu sekira pukul 10:00 Wita.

“Sebelumnya anak saya itu kan tensinya naik waktu periksa di puskesmas mulai dari situ sudah tidak normal.”

“Anak saya itu meninggalnya hari Minggu kemarin,” kata Rusdiana

Pasca-meninggal putrinya itu, beberapa jam kemudian suami Siti juga mengalami hipertensi.

Melihat kondisi suami Siti yang semakin drop, keluarga memutuskan melarikannya ke rumah sakit.

Namun belum sempat mendapatkan pertolongan medis, suami Siti mengembuskan nafas terakhirnya di tengah-tengah perjalanan.

“Tidak lama kemudian setelah anak saya meninggal itu, suaminya juga langsung naik tensi dan dilarikan ke rumah sakit.”

“Dan tidak lama langsung muncul kabar kalau dia sudah meninggal juga sementara anak saya ini masih dimandikan di rumah,” tutur Rusdiana.

Kini, keenam anak tersebut harus menanggung kenyataan pahit menjadi yatim piatu disaat disaat usia mereka masih belia.