Mahasiswa Kecewa Dengan Statement Bupati Rohul Yang Mempertanyakan Status Kepemilikan UPP

2578

PASIRPENGARAIAN – Menindaklanjuti undangan bupati Rohul, H Sukiman kepada mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (UPP) pada Minggu malam, (15/03/2020), mahasiswa yang hadir mengaku kecewa dengan statement yang dilontarkan oleh Bupati Rohul.

Baca Juga : http://riausmart.com/2020/03/15/soal-janji-berikan-beasiswa-bupati-pertanyakan-status-upp/

Kepada Riausmart.com, Eko Yurman Seprizal, selaku Koordinator Umum (Kordum) aksi mengaku kecewa dengan keputusan Bupati Rohul yang dianggap kurang profesional.

” Apabila visi misi bupati Rohul adalah menata kota membangun Desa, maka bupati Rohul tidak perlu memandang bulu status UPP milik Pemda atau swasta, karena yang ditata itu merupakan Sumber Daya Manusianya, bukan hanya pembangunannya saja,” jelas Eko panjang lebar. Senin (16/03/2020)

Eko berharap Bupati Rohul dapat turut memperhatikan SDM Kabupaten Rokan Hulu, mengingat para pemuda Rohul merupakan penerus kebangkitan Kabupaten yang bergelar Negeri Seribu Suluk dimasa yang mendatang.

” Sangat disayangkan Bupati Rokan Hulu justru mempertanyakan status kepemilikan UPP,” jelas Eko.

Sedangkan, Suhendri selaku Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi juga sangat kecewa dengan apa yang disampaikan bupati Rohul.

” UPP punya siapa?,” Tiru Suhendri

” Saya sampaikan, UPP punya Rokan Hulu, pada hari ini UPP sudah sangat berkontribusi untuk Rokan Hulu, sudah banyak menciptakan generasi pelurus yang handal, sedikit saya jelas kan, Dalam konsep hibah berupa bantuan pendidikan, dalam Permendagri tidak boleh diberikan kepada pemerintah  seperti perusahaan milik pemerintah, yayasan milik pemerintah dan lain-lain,” jelas Suhendri.

” Namun tidak tepat jika diberikan bukan kepada pemerintah. Artinya, Yayasan Pembangunan Rokan Hulu (YPRH) sebagai sasaran yang tepat untuk menerima bantuan pendidikan, namun dibatasi, tidak boleh berturut setiap tahunnya,” tambah Suhendri.

Mahasiswa jurusan Hukum UPP itu juga menyayangkan keputusan bupati Rohul yang pergi saat agenda diskusi tengah berlangsung.

” Kita seakan tidak dihargai, kalau keputusannya seperti ini, kenapa kita diundang dalam rapat ini,” Tutup Suhendri.

Dalam pengakuan Suhendri, tidak ada titik terang yang diberikan Bupati Rohul dalam permasalahan ini.