Penganiayaan Terhadap Bocah 4 Tahun di Rohul, Berikut Pandangan Psikolog

341

PEKANBARU – Mengenai pemberitaan penganiayaan yang dilakukan oleh pelajar SMP di Kecamatan Rambah, Rohul terhadap bocah berumur 4 tahun, hal ini membuat ahli Psikolog, Heleni Filtri, M.Psi angkat bicara, Rabu (03/06/2020).

Baca juga : http://riausmart.com/2020/05/27/pelajar-smp-duga-aniaya-bocah-4-tahun-dengan-luka-sayatan-di-leher-dan-perut/

Dalam pengakuan wanita yang akrab disapa Fifil itu, melihat dan mendengar informasi yang dikeluarkan oleh awak media Riausmart.com, diprediksi NN (4) bocah korban penganiayan oleh Pelajar SMP mengalami trauma berat, Hal ini terbukti dengan kondisi NN yang sering kali ketakutan ketika melihat orang banyak, apalagi laki-laki.

” Tentunya korban mengalami trauma berat, hal ini terbukti dengan takutnya dia ketika bertemu orang banyak, apalagi dengan laki-laki,” jelas ahli psikolog itu.

Kepala Prodi PG PAUD FKIP Unilak itu juga mengatakan, justru trauma NN lebih mendalam dari yang terlihat

” Karena korban umurnya masih belia, yakni 4 tahun, tentu ini berpengaruh terhadap perkembangan anak dikemudian hari, karena anak di usia 4 tahun adalah masa dimana dia mengenal baik dan buruk,” jelas Fifil.

Selain terganggunya perkembangan korban, Fifil juga mengatakan hal terburuk yang akan terjadi pada Korban adalah dia akan menjadi pribadi yang tertutup, tidak ingin berjumpa orang lain, sehingga mengganggu kehidupan sosialnya dikemudian hari.

” Yang terparahnya lagi adalah karena perlakuan penganiayaan tersebut, korban akan membenci laki-laki yang berakibat buruk pada masa depannya, yakni bisa jadi tidak akan menyukai laki-laki atau anti sosial,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Fifil berharap adanya pengayoman dari pihak pemerintah daerah seperti Dinas Sosial yang akan memberikan terapi berbentuk pendampingan kepada anak dan hal itu tentu juga membutuhkan kerjasama antara orangtua dan lingkungan sekitar.

” Memang untuk menyembuhkannya ini berat dan butuh waktu yang lama, namun, berbagai pihak diharapkan mampu untuk mengembalikan keceriaan korban, terutama orang tua korban itu sendiri,” imbuhnya.

” Kita dapat mengajak korban untuk bermain dan bercerita tentang hal apa yang ia suka, sehingga dapat membantu menghilangkan ingatan korban tentang penganiayan yang telah terjadi padanya,” lanjutnya.

” Di usia anak 4 tahun adalah masa dimana dia suka sekali bermain, maka orang tua korban dapat membawa dia ke tempat objek wisata, atau sekedar rekreasi untuk melupakan kejadian pahit yang telah menimpanya dulu,” tutupnya.