Dr. Elviriadi Apresiasi Mahkamah Agung Bebas Murnikan Perkara Karhutla, Syafruddin

233
Riausmart.com, PEKANBARU – Keluarnya putusan Mahkamah Agung RI tentang penolakan kasasi Jaksa atas putusan bebas Syafrudin menuai apresiasi pakar lingkungan Dr.Elviriadi
Kepada awak media ini riausmart.com putra asli Kabupaten Meranti itu tak dapat sembunyikan rasa gembira atas putusan Mahkamah Agung RI tersebut.
“Alhamdulillah wa syukurillah. Tadi malam Dinda Andi Wijaya (Direktur LBH Pekanbaru-red) memberi kabar bahwa kasasi dah keluar. Pak Syafrudin dinyatakan tetap bebas murni, ” kata Elviriadi, Ahad (26/09).
Menurut Elviriadi, keputusan Mahkamah Agung sudah memenuhi rasa keadilan rakyat.
“Sekali ini tujuan hukum sudah tercapai. Saya yakin hakim Mahkamah Agung mempertimbangkan segala aspek. Masa yang Karhutla kecil kecil begini disergap juga. Kan tak tepat sasaran, ” bebernya.
Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu menilai penerapan hukum Karhutla harus lebih selektif.
“Saya lihat uber uber Karhutla ini masih bisa dikoreksi. Kan penyebabnya eksploitasi lahan gambut yang ingkar AMDAL bahkan tanpa izin, lalu mengering dan terbakar. Sedangkan lahan pribadi warga kan tidak ada instrumen evaluasi birokrasi. Lahan warga kan hubungan hukum dengan tanah nya hak milik. Kalau korporasi itu hak sewa, status milik negara, ” cakap alumni UKM Malaysia.
Akademisi yang kerap jadi saksi ahli ini menegaskan terjadi kesalahan penerapan strick liability.
“Strick Liability (tanggung jawab seketika/mutlak) itu dilahan korporasi. Jadi jika terbakar, tanpa perlu membuktikan man srea (unsur kesalahan) bisa ditindak. Tapi saya tengok kasus Pelalawan (Opung Mutar), Meranti/Bengkalis (Ruslan, Mujiman), Inhil, dan Rupat (Misni) itu diterapkan Strick Liability. Gak bisa itu. Harus ada pelaku yang mempertanggung jawabkan kebakaran lahan, ada saksi yang melihat sesuai azaz legalitas dalam hukum acara pidana.
Elviriadi menilai sumber Karhutla masih terus berkembang di daerah daerah melalui penggarapan lahan gambut secara illegal,” Ungkapnya panjang lebar.
“Selagi tuan tuan gambut ini bebas bermain akrobat, tak pernah diseret ke meja hijau, maka gambut dan kekayaan alam lingkungan akan makin pupus. Sedangkan penduduk melayu tempatan terus di jadikan penerapan strick liability yang serampangan. Kepunanlah budak Melayu Riau. Telouw Temakollah pun dah terbakar dilahap gambut,” Tambahnya lagi sambil sedikit tertawa kecil.