Pasien DBD di Rohul Mencapai 29 Kasus, 2 Meninggal Dunia

PASIRPENGARAIAN – Terhitung dari awal tahun 2022 hingga hari ini, Selasa (15/02), Jumlah angka kasus masyarakat terserang Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Rokan  Hulu telah mencapai 29 kasus, dimana 2 diantaranya meninggal dunia.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu, dr Bambang kepada awal media Haluan Riau, Selasa (15/02) di Kantor Dinkes Rohul, Komplek Pemda Pasir Pengaraian.
Disampaikan dr Bambang bahwa dalam musim pancaroba pada saat sekarang ini, banyak berbagai penyakit yang dapat timbul dalam pergantian musim, salah satunya Demam Berdarah Dengue atau lebih dikenal dengan DBD.
“Memang selama ini kita terus melakukan berbagai upaya dan tindakan-tindakan, seperti salah satunya memberikan penyuluhan terkait penyakit Demam Berdarah,” Kata dr Bambang.
Lanjut dr Bambang, berkaca dari tahun 2021 lalu, dimana jumlah kasus DBD mencapai 102 kasus dan 4 diantaranya meninggal dunia, maka Pemerintah akan lebih melakukan antisipasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya DBD.
“Kita bisa menghindari penyebaran dari penyakit DBD ini, salah satunya dengan melakukan gotong royong, pembersihan lingkungan atau yang lebih dikenal dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan menghindari media sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk,” Jelas Bambang.
dr Bambang juga menjelaskan bahwa apabila terdapat masyarakat terserang DBD, hal pertama yang akan dilakukan adalah melakukan penyelidikan Epidemiologi, dimana dilakukan tindakan di rumah penderita DBD serta menyelidiki penyebab dan sumber nyamuk DBD.
“Kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk, dengan bekerjasama dan bergotong royong dengan masyarakat, kita bisa membasmi perkembangbiakkan nyamuk,” Sebutnya.
Kepada seluruh masyarakat Kabupaten Rokan Hulu, dr Bambang berpesan untuk tidak terlambat dalam mengambil tindakan terhadap pasien terserang DBD.
“Apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami demam tinggi, maka segeralah untuk dibawa berobat, hal ini untuk memastikan keluarga kita terserang DBD atau bukan, karena pada hakekatnya terserang atau tidaknya DBD itu gejala awalnya hampir sama, yakni demam tinggi,” Pungkasnya.