Perihal Video VIRAL Siswa Coret-Coret Baju, Berikut Pandangan Ketua PGRI Rohul

PASIRPENGARAIAN – Menindaklanjuti video viral sejumlah siswa di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Rokan Hulu yang merayakan kelulusan dengan cara hura-hura, mencoret-coret baju dalam menyambut kelulusan di tengah covid-19, nyatanya menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat.

Dalam pandangan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Rokan Hulu, Dr. Adolf Bastian, M.Pd mengatakan aksi segelintir remaja SMA tersebut  telah menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat yang merupakan hal yang wajar dan pantas, karena aksi yang mereka lakukan  bertentangan dengan nilai yang dianut oleh masyarakat kebanyakan, apalagi dikaitkan dengan kodrat manusia sebagai makhluk berpikir yang dianugerahi kecerdasan dibandingkan makhluk ciptaan lainnya.

” Pro dan kontra atas perlakuan luapan emosi jiwa remaja yang lulus ujian nasional dengan cara-cara yang kurang tepat dan tidak terpuji telah tersebar viral secara nasional. Berbagai respon muncul mewakili lembaga atau individu, baik tokoh agama, pendidikan maupun tokoh masyarakat atas pelanggaran norma, dengan berbagai macam pendapat dan kecaman disertai sanksi mulai yang keras, sedang dan lembut. Semua respon yang muncul berdasarkan persepsi atau sudut pandang dari individu atau lembaga sesuai dengan tingkat perasaan emosi saat itu. Jadi harap dimaklumi, jika respon invidu terhadap satu fenomena akan sangat berbeda satu dengan yang lain, tergantung  atas rasa dan norma yang dianut ,” jelas Adolf.

Menurut Adolf, bila dibedah dari perspektif teori Ilmu Pendidikan, sesungguhnya mereka (Pelajar SMAN 1 Kunto yang melakukan Coret-coret baju) adalah sebagai korban dari kesalahan kolektif kita sebagai orang dewasa.

” Pendidikan merupakan salah satu proses pendewasaan diri siswa, melalui proses pembelajaran yang  dilakukan oleh orang dewasa sehingga  setiap orang dewasa adalah pendidik.

Selanjutnya ketika ditanya, apa saja yang membuat output pendidikan itu bermutu sebagaimana harapan orang tua dan masyarakat?,” ungkap Adolf.

Sebagai akademisi, Doktor bidang Ilmu Pendidikan, Adolf mengungkapkan, dulu kita mengenal tiga lingkungan utama pendidikan yang saling mempengaruhi yaitu:

Pertama Lingkungan keluarga, orang tua dan anggota keluarga dewasa yang bertanggung jawab mencukupi sandang, pangan dan papan serta tugas mendidik, membentuk dan mengembangkan karakter akhlak mulia. Jadi, tumbuh kembang generasi unggul dan berkarakter  menjadi tugas pertama dan utamanya orang tua.

Selama pandemi Covid-19, anak belajar dari rumah, sehingga banyak orang tua yang mengaku pusing dan stres karena harus memerankan dua peran orang tua dan guru. Kalau orang tua pusing anak-pun ikut pusing dan mereka rindu sekolah. Hikmahnya, masyarakat sadar, ternyata menjadi guru itu tidak mudah dan tidak semua orang mampu melakukan.

Kedua Lingkungan sekolah, kepala sekolah dan guru tugas utamanya membantu orang tua atau masyarakat mendidik dan mengajar generasi muda. Sayangnya, tugas kurikulum yang padat dan mengejar ketuntasan materi pembelajaran, sekolah lebih memerankan tugas mengajar, sehingga terlihat sekolah menjadi proses transformasi ilmu pengetahuan bukan sebagai taman pembentukan budi pekerti baik.

Ketiga Lingkungan masyarakat, mulai dari struktur terkecil RT hingga Presiden bertanggung jawab bersama orang tua dan sekolah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang segala potensi kemanusiaannya. Namun sayangnya, hari ini beban terberat mendidik dan mengajar generasi muda ada di pundak sekolah, sehingga sekolah dalam hal ini guru selalu menjadi orang yang disalahkan kalau muncul persoalan atas prestasi dan kenakalan siswa, di sisi lain guru juga harus rela mendapatkan upah yang tidak wajar dan ancaman hukuman kecelakaan menjalankan profesi dari undang-undang perlindungan anak serta kesalahan pengelolaan dana BOS.

Hari ini dunia pendidikan dihantui pula oleh acaman kemajuan teknogi informasi yang menghasilkan globalisasi informasi. Generasi muda yang polos, harus memilih dan memilah serta memutuskan  informasi seperti apa yang benar dan bermanfaat untuk mereka konsumsi. Pemilik media atau informasi pasti hanya memikirkan keuntungan finansial, tanpa memikirkan dampak negatif atas globalisasi informasi itu sendiri.

” Jadi, apa komentar bapak atas kejadian video viral siswa SMA di Rohul ?,” Ungkap Adolf lagi

” Rasanya kurang tepat atau kurang arif, ketika belasan siswa dari 6915 siswa SMA/SMK /MA tamat di Rohul tahun 2020, melakukan  aksi diluar kewajaran dalam proses mencari jati diri menuju manusia dewasa, menarik perhatian orang (MPO), ingin menunjukkan eksistensi diri, dengan meniru perilaku yang dulu  seniornya lakukan, kita beri sanksi berat, menghukum mereka untuk bertanggung jawab penuh, dibully, dicap dengan lebel tertentu serta diancam dievaluasi proses belajarnya dan sebagainya ? tanpa kita hukumpun, mereka dan orang tuanya sudah mendapatkan sanksi sosial yang berat, hujatan demi hujatan langsung maupun tidak langsung melalui medsos,  tanpa diberi ruang untuk kita belai bersama sebagai anak kemenakan. Pendidikan sesungguhnya proses belai-membelai agar mereka tumbuh dewasa dalam kasih sayang. Berikan kesempatan sekolah dan dinas pendidikan Provinsi Riau, menjatuhkan hukuman berupa tindakan tegas yang mendidik, kepada siswa yang melakukan aksi kurang terpuji. Sepatutnya dinas pendidikan mengandeng Dewan Pendidikan Provinsi menurunkan team pencari fakta melalui virtual conferensi, sejauh apa sekolah telah menerapkan SOP dalam proses pembelajaran dan pengumuman hasil ujian nasional.  Masyarakat juga hendaknya ikut memantau kerja team dan juga kita akhiri hujatan dan cacian yang berselewengan di medsos, agar sejuk hendaknya hati dan negeri di bulan suci ramadhan seraya fokus membantu penganggulangan dampak sosial ekonomi pandemi Covid 19 di tengah masyarakat,” lanjutnya panjang lebar.

Sehingga menurut Adolf, dengan adanya kejadian ini, semua stakeholder pendidikan merenungkan kembali dan melakukan autokritik atas layanan pendidikan selama ini, untuk perbaikan sistem, terutama proses pendidikan dan pembelajaran yang mampu mencapai hakikat tujuan pendidikan, melahirkan gerasi penerus yang cemerlang, gemilang dan terbilang di masa depan, semoga, Aamiin