BPR Rohul Berkembang, Sukiman : Saya Bangga

PASIRPENGARAIAN – Bupati Rokan Hulu (Rohul) H. Sukiman apresiasi sekaligus bangga terhadap kinerja Dirut (Direktur Utama) dan Dewan Pengawas (Dewas) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Rokan Hulu.
“Saya bangga karena dalam kurun waktu 8 bulan, bisa mengembalikan defisit yang selama ini mencapai 1 milyaran, bahkan tahun 2020 laba sebanyak Rp 20 juta lebih, ini bukti dia (Dirut dan Dewas BPR Rohul) mampu untuk mengelola BPR Rohul,”ungkap Bupati Sukiman, Kamis (21/01).
Diakui Sukiman, sebelumnya keadaan BPR Rokan Hulu sangat memprihatinkan, sehingga Bupati mengganti pimpinan di lingkungan BPR Rohul, seperti Dirut dan Dewas pada beberapa bulan lalu.
“BPR itu merupakan Bank Milik Pemerintah Daerah, tapi selama ini terlihat seperti hidup enggan matipun segan, dikarenakan dibutuhkan pengurus yang profesional,  untuk itu saya gantikan manajemen yang baru, baik itu dari Direktur nya, maupun Dewan Pengawas,” tambah Sukiman.
Ketika ditanyakan terkait dukungan Pemkab Rohul, Sukiman mengatakan siap membantu menghidupkan kembali BPR Rokan Hulu yang lebih baik.
“Dukungan Pemkab banyak, baik tabungan diberikan kepada yang kecil-kecil (masyarakat), ada juga uang tidur, ada juga uang Kori yang selama ini ditempatkan di bank lain, dan dipindahkan ke BPR Rokan Hulu nantinya,” jelas Sukiman.
Bupati Sukiman juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan Bumdesa sebagai lokomotif ekonomi Desa, bekerja sama dengan BPR Rokan Hulu, tentunya dengan tidak melanggar rambu rambu hukum, sehingga dapat membantu bisa mengelola dana desa.
“Tahap awal kita benahi manajemennya, nanti kami ada rapat lanjutan, kita juga harus koordinasi dengan pihak terkait karena melalui banyak pemikiran banyak masukan akan membuat BPR Rohul lebih maju kedepannya,” tukas Bupati.
Sementara itu, salah seorang  Dewan Pengawas Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Rokan Hulu, Sudarno membenarkan terkait perkembangan BPR Rokan Hulu dalam 8 bulan terakhir.
“Pada saat pertama kami masuk itu, yakni di bulan April 2020, itu laba rugi kita negatif Rp 300 an Juta, Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) 120 persen, artinya pendapatan sebesar 100 namun biayanya 120, ROA juga berada di posisi negatif yang berarti rugi dan kredit macet mencapai 25 persen,” ungkap Sudarno.
Namun, setelah dilakukan pengawasan dengan bersinergi bersama direksi dan pemegang saham yakni Bupati Rokan Hulu, per 31 Desember 2020 BPR Rokan Hulu mengalami peningkatan atau kemajuan.
“Laba kita menjadi Rp 284 Juta, BOPO sudah berada diposisi 96 persen dan ROA menduduki 0.96 persen yang berarti mendekati 1 persen sedangkan standar OJK kita yakni 1.2 persen,” jelas Sudarno.
Sedangkan untuk NPL kredit macet lanjut Sudarno, turun dari angka 25 persen menjadi 18 persen.
Diakui Sudarno, sebagai Dewan Pengawas BPR Rohul kedepannya akan bekerja lebih masif, dimana antara direksi dan pemegang saham juga diharapkan dapat bersinergi dalam mengembangkan BPR Rokan Hulu.