KAMPAR – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Lancang Kuning (Unilak) melaksanakan kegiatan pendampingan implementasi pembelajaran sosial-emosional (Social-Emotional Learning/SEL) berbasis kelas di SMA Negeri 2 Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi guru dalam mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional ke dalam proses pembelajaran sehari-hari sebagai upaya mendukung lingkungan belajar yang positif dan kesejahteraan psikologis siswa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui skema Kemitraan Lingkup Pendidikan Universitas Lancang Kuning tahun 2026. Tim pelaksana terdiri atas Assoc. Prof. Dr. Herlinawati, S.S., M.Ed., Assoc. Prof. Dr. Drs. Nurfaisal, M.Pd., dan Dr. M. Firdaus, S.Pd., M.Pd.
Pendampingan ini merespons kebutuhan guru untuk meningkatkan kemampuan dalam membangun kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan membangun relasi, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kelima kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan interaksi pembelajaran yang suportif, inklusif, dan memperhatikan aspek sosial-emosional peserta didik.
Pelaksanaan kegiatan meliputi koordinasi dan identifikasi kebutuhan sekolah, lokakarya, perancangan aktivitas kelas, penerapan strategi SEL, observasi pembelajaran, coaching reflektif, serta evaluasi deskriptif. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, guru memperoleh pendampingan untuk menerapkan strategi sosial-emosional secara nyata di dalam kelas, bukan sekadar memahami konsepnya secara teoretis.
Pemahaman Guru Meningkat Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, sebanyak 43 dari 70 guru atau 61,43 persen mengikuti program pendampingan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rerata nilai pemahaman guru meningkat dari 61,74 pada prates menjadi 82,56 pada pascates, dengan kenaikan sebesar 20,82 poin.
Hasil observasi pembelajaran juga memperlihatkan praktik positif setelah pendampingan. Interaksi suportif antara guru dan siswa teramati pada 93,3 persen unit pasca pendampingan yang diamati. Sementara itu, indikator kerja sama dan empati mencapai 86,7 persen, pengecekan atau refleksi emosi 80 persen, serta refleksi akhir pembelajaran 73,3 persen.
Selain itu, 12 dari 15 unit pengamatan pasca pendampingan menunjukkan penggunaan sedikitnya tiga strategi pembelajaran sosial-emosional. Respons positif siswa terhadap lima indikator pengalaman belajar berada pada rentang 74–81 persen.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pendampingan berkontribusi pada penguatan pemahaman guru dan penerapan strategi SEL di kelas. Namun, hasil ini bersifat deskriptif dan belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat ataupun peningkatan langsung kesejahteraan psikologis siswa.
Mendorong Pembelajaran yang Lebih Humanis Pembelajaran sosial-emosional menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu guru memahami kebutuhan siswa secara lebih menyeluruh. Proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan kemampuan siswa mengenali emosi, membangun hubungan positif, bekerja sama, menunjukkan empati, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, Tim PkM Unilak mendorong agar strategi SEL dapat diterapkan secara berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya pembelajaran yang lebih humanis, mendukung interaksi positif guru dan siswa, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif bagi proses belajar.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim merencanakan finalisasi modul praktis, pengarsipan bukti pelaksanaan dan pembiayaan, diseminasi materi kepada 27 guru yang belum mengikuti kegiatan, serta pemantauan penerapan strategi SEL di sekolah.
Kegiatan ini juga telah menghasilkan luaran akademik berupa artikel berjudul “Pendampingan Implementasi Pembelajaran Sosial-Emosional Berbasis Kelas melalui Coaching Reflektif” yang diterbitkan dalam Journal of Human and Education (JAHE), Volume 6 Nomor 3 Tahun 2026, halaman 53–62.
Melalui program kemitraan ini, Universitas Lancang Kuning menegaskan komitmennya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan berbasis kebutuhan sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memperkuat kapasitas guru dan meningkatkan kualitas pengalaman belajar peserta didik.