SINGAPURA – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Riau mengirimkan sembilan delegasi untuk menghadiri 40th ASEAN Council of Teachers (ACT) + Korea Convention yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di D’Marquee, Singapura. Konvensi internasional yang diikuti 63 delegasi Indonesia tersebut menjadi forum strategis untuk membahas masa depan pendidikan, penguatan profesionalisme guru, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam pembelajaran.
Konvensi ke-40 ACT+1 mengusung tema “Navigating Our Future: Steered by Teachers, Anchored in Relationships, Propelled by AI”, yang bermakna menavigasi masa depan dengan guru sebagai pengarah, hubungan antarmanusia sebagai fondasi, dan AI sebagai pendorong inovasi pendidikan.
Ketua PGRI Provinsi Riau, Prof. Dr. Adolf Bastian Tambusai, M.Pd., menilai perkembangan AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas proses pendidikan. Menurutnya, teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk memperkaya metode pembelajaran, membantu guru menyiapkan materi ajar, memperluas akses terhadap sumber pengetahuan, dan mendukung pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan peserta didik.

“AI harus kita manfaatkan sebagai teknologi pendukung untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kehadiran AI membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan inovatif. Karena itu, guru perlu meningkatkan kompetensi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab, sehingga AI benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas pembelajaran,” ujar Prof. Adolf dalam pernyataannya
Meski demikian, pemanfaatan AI dalam pendidikan harus tetap berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh. Teknologi perlu ditempatkan sebagai alat pendukung proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti interaksi edukatif yang menjadi bagian penting dari hubungan antara guru dan peserta didik.
Prof. Adolf menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, penanaman nilai moral, pengembangan empati, dan pemberian keteladanan. Aspek-aspek tersebut menempatkan guru pada posisi yang tidak dapat digantikan hanya dengan kecanggihan teknologi.
“Secanggih apa pun AI berkembang, peran guru dalam hubungan mendidik tidak akan pernah tergantikan. AI mungkin dapat membantu menyampaikan informasi dan menjawab pertanyaan, tetapi guru memiliki peran yang jauh lebih mendalam, yakni membimbing, menginspirasi, menanamkan nilai-nilai moral, membangun karakter, dan memberikan keteladanan. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia, dan di situlah peran guru tetap menjadi inti yang tidak tergantikan,” tegas Prof. Adolf.














