PEKANBARU – Memasuki tahun 2025, dunia menyaksikan kelahiran generasi baru yang secara akademis dikenal sebagai “Generasi Beta.” Generasi ini menggantikan Generasi Alpha dan menjadi representasi masyarakat yang lahir dalam dekade mendatang, yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan inovasi yang semakin pesat.
Menurut Dr. Agus Seswandi, pakar demografi dan analis data sekaligus dosen pascasarjana Universitas Lancang Kuning yang sekarang juga sedang dipercaya sebagai Sekretaris Koalisis Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Riau, mengatakan bahwa Generasi Beta adalah istilah yang merujuk pada generasi anak-anak yang lahir setelah Generasi Alpha (yang lahir antara 2010 hingga 2024).
“Generasi Beta diperkirakan dimulai pada tahun 2025 hingga sekitar tahun 2039. Istilah ‘Beta’ sering digunakan untuk menggambarkan kelanjutan atau iterasi berikutnya dalam evolusi sosial dan teknologi,” terangnya.
Dr. Agus juga menjelaskan bahwa Generasi Beta akan memiliki karakteristik unik yaitu, Teknologi yang Lebih Canggih, generasi Beta akan tumbuh di dunia yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan, robotika, realitas virtual, dan teknologi berbasis data yang sangat maju.
“Interaksi mereka dengan teknologi akan lebih mendalam dibandingkan generasi sebelumnya,” sebutnya.
Selain itu, generasi Beta dalam segi Pendidikan juga Berbasis Teknologi, pendidikan mereka kemungkinan akan beralih dari pendekatan tradisional ke sistem yang sangat personalisasi, menggunakan alat berbasis AI dan teknologi imersif seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).
“Untuk Isu Lingkungan, generasi ini akan tumbuh dalam dunia yang lebih sadar akan krisis lingkungan, sehingga menjadi bagian dari solusi global terkait keberlanjutan dan perubahan iklim,” tambahnya.
Keseimbangan Digital, tantangan utama adalah menemukan keseimbangan antara dunia digital dan realitas fisik. Orang tua dan pendidik akan berperan penting dalam membimbing mereka menghadapi risiko kecanduan teknologi.
Globalisasi yang Mendalam, generasi Beta kemungkinan akan menjadi lebih “global” dari segi budaya, pendidikan, dan pekerjaan karena kemajuan konektivitas global.
Kompleksitas Sosial, mereka akan menghadapi isu seperti keadilan digital, privasi data, dan ketimpangan teknologi di dunia yang semakin kompleks secara sosial dan ekonomi.















