RIAUSMART.COM – Duka tengah menyelimuti komunitas politik konservatif di Amerika Serikat setelah aktivis konservatif Charlie Kirk mengalami penembakan di acara yang berlangsung di kampus Utah Valley University pada Rabu, 10 September 2025. Kejadian tragis ini menimbulkan reaksi keras terhadap buruknya kebebasan berpolitik di AS. Dikutip dari Cakaplah.com pada Kamis (11/9/2025).
Teman dekat Presiden Amerika, Kirk dikenal sebagai pendiri dan CEO Turning Point USA, diserang saat berpidato dalam sebuah debat terbuka berjudul “The American Comeback. ” Video yang beredar di platform media sosial menunjukkan Kirk sedang menjawab pertanyaan mengenai isu kekerasan senjata, sebelum suara tembakan terdengar. Ia tampak mengangkat tangannya, dengan darah mengalir dari lehernya, memicu kepanikan di antara penonton yang lalu berhamburan.
FBI mengonfirmasi bahwa satu orang telah ditangkap terkait insiden ini, tetapi belum ada kejelasan apakah dia adalah penembaknya. Direktur FBI Kash Patel mengumumkan di media sosial, “Orang yang diduga menembak Charlie Kirk kini ditahan. ”
Walikota Orem David Young menyatakan bahwa pelaku utama masih dalam pencarian. Charlie Kirk dinyatakan meninggal oleh Donald Trump melalui media sosial. Trump menggambarkan Kirk sebagai sosok yang hebat dan legendaris yang memiliki hubungan erat dengan generasi muda di AS.
“Tak seorang pun memahami hati pemuda Amerika lebih baik daripada Charlie,” tulis Trump di akun Truth Sosialnya.
Berbagai pihak dari kalangan Republik dan Demokrat pun mengutuk peristiwa ini. Gubernur California Gavin Newsom menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan yang keji dan memalukan.
Gabrielle Giffords, mantan anggota kongres yang menjadi korban penembakan, juga mengungkapkan rasa simpati yang mendalam kepada keluarga Kirk. Sesaat setelah insiden terjadi, pihak universitas segera mengevakuasi area Sorensen Center dan menghentikan semua kegiatan akademis. Mahasiswa dan staf diinstruksikan untuk tetap berada di lokasi hingga pihak berwenang menjamin keamanan.
Petugas bersenjata bahkan melakukan penyisiran di sekeliling kampus sambil menunjukkan foto terduga pelaku kepada warga sekitar. Acara tersebut merupakan bagian dari tur nasional Kirk yang telah menimbulkan perdebatan di beberapa universitas. Sebelum kejadian, terdapat petisi daring yang menyerukan agar universitas melarang penampilan Kirk, dengan lebih dari 1.000 dukungan.
Meskipun demikian, pihak universitas tetap melanjutkan acara tersebut dan menegaskan pentingnya kebebasan berpendapat serta dialog akademik.
Charlie Kirk mendirikan Turning Point USA pada tahun 2012 bersama William Montgomery dengan tujuan memperjuangkan pajak yang lebih rendah dan pemerintahan yang terbatas. Organisasi ini telah berkembang menjadi salah satu gerakan konservatif terpenting di kalangan anak muda di Amerika.
Kirk juga diakui sebagai pendukung setia bagi Donald Trump, sering tampil di acara kampanye, menjadi bintang tamu tetap di televisi, serta vokal dalam isu-isu budaya. Dukungan ini membawanya dekat dengan kalangan Trump termasuk Donald Trump Jr. Penembakan Kirk menambah rentetan insiden kekerasan yang berhubungan dengan politik di Amerika. Ada beberapa insiden yang mengejutkan publik di beberapa bulan terakhir mulai dari pembunuhan seorang anggota parlemen Minnesota serta suaminya, pengeboman di parade Colorado, dan penembakan yang menargetkan Trump saat kampanye.
Sementara motif penembakan Kirk belum diketahui, banyak yang berpendapat bahwa insiden ini berkaitan dengan meningkatnya polarisasi politik. Jason Chaffetz, mantan anggota kongres Utah yang hadir di lokasi mengungkapkan perasaannya yang sangat terguncang.
“Utah adalah salah satu tempat teraman di dunia. Kami tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi,” tutup Jason. Tulis (Mo).