BANGKINANG – Program studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan limbah rumah tangga untuk mengurangi efek rumah kaca bagi siswa SMP NEGERI 4, Kampar Riau.
Saat ini permasalahan sampah sudah menjadi isu baik di daerah sampai Internasional. Terkhusus di Riau, produksi sampah harian sudah cukup tinggi, namun penanganannya masih belum memadai. Seringkali kita melihat sampah yang berserakan di pinggir-pinggir jalan. Hal ini mengganggu pemandangan dan aroma yang tidak sedap.
Salah satu upaya untuk mengurangi produksi sampah yang tinggi, maka perlu penanganan yang baik agar dapat mengurangi efek rumah kaca. Limbah rumah tangga yang bersifat organik dapat dimanfaatkan dengan cara mengkomposkan sehingga menghasilkan pupuk kompos organik. Tujuan dari sosialisasi ini agar siswa SMPN 4 Kampar secara dini paham tentang limbah rumah tangga, jenis-jenisnya, pemanfaatannya dan cara pembuatan kompos.
Semakin dini mereka paham terhadap efek rumah kaca dan perubahan iklim sekitar, maka semakin cepat para siswa beradaptasi dan bermitigasi. Harapannya siswa SMPN 4 Kampar mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bijak terhadap sampah dan pengelolaannya. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan tinggi melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat.

Sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2025 dengan sasaran adalah para siswa kelas 9 di SMPN 4 Kampar. Kegiatan ini terselenggara atas pendanaan dari Universitas Lancang Kuning melalui dana APBF Pascasarjana LPPM Unilak setiap semester. Beberapa dosen Fakultas kehutanan Unilak yang terlibat diantaranya Dr. Ir Anna Juliarti sebagai ketua tim yang didampingi oleh Dr. Rina Novia Yanti, Dr M. Rawa EM, dan Marta Dinata, M.Si sebagai anggota.
Dikatakan Dr Anna Juliarti (Ketua tim) bahwa sosialisasi dan praktek penanganan dan pembuatan kompos sudah dilakukan di beberapa SD dan SMP di Pekanbaru.
“Pendidikan dan pengetahuan tentang pengelolaan sampah perlu disosialisasikan dari tingkatan pendidikan terbawah agar siswa sudah tertanam jiwa Save earth dan tindakan yang go green. Apalagi akhir-akhir ini kondisi iklim yang tidak menentu membuat para siswa harus siap dan mampu menghadapi perubahan tersebut terutama sikap, pemahaman dan langkah ke depan dalam beradaptasi dengan baik,” sebutnya.
Selanjutnya, Dr Rina Novia Yanti menambahkan bahwa untuk menghadapi perubahan iklim, salah satu kebiasaan yang perlu dikembangkan adalah siswa mampu memilah limbah rumah yang organik maupun yang non organik.













