Guru MA Muhammadiyah Pekanbaru Ikuti Pelatihan Pembelajaran Etnosains

PEKANBARU — Sebanyak 20 guru Madrasah Aliyah Muhammadiyah Pekanbaru mendapatkan pelatihan mengenai implementasi model pembelajaran berbasis etnosains. Kegiatan ini diinisiasi oleh tim dosen Universitas Lancang Kuning (Unilak) melalui program pengabdian kepada masyarakat, dengan tujuan meningkatkan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang kontekstual, menarik, dan relevan dengan budaya setempat.
Pelatihan ini berlangsung selama dua hari di ruang kelas madrasah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Para peserta mendapatkan materi tentang konsep dasar etnosains, penyusunan perangkat ajar, praktik penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pembelajaran yang memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber belajar.
“Kami ingin guru-guru di madrasah mampu menjembatani sains modern dengan kearifan lokal. Dengan pendekatan etnosains, siswa bisa belajar sains melalui contoh nyata yang mereka temui sehari-hari,” ujar Mar’atul Afidah, dosen Pendidikan Biologi Unilak sekaligus ketua tim pelaksana kegiatan.
Salah satu capaian dari pelatihan ini adalah meningkatnya pemahaman guru terkait konsep etnosains. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata peserta naik signifikan, dari 41,44 persen pada pretest menjadi 98,06 persen pada posttest. Para guru juga menghasilkan RPP dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang memasukkan unsur budaya lokal, seperti praktik pengobatan tradisional Melayu, pengolahan pangan lokal, serta kearifan masyarakat dalam mengelola alam.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat memotivasi guru-guru lain di Pekanbaru untuk berani mengangkat budaya lokal sebagai bahan ajar di kelas. Ini penting agar generasi muda tidak terputus dari nilai-nilai luhur daerahnya,” pungkas Mar’atul.
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk komitmen Unilak dalam mendukung inovasi pendidikan yang menggabungkan sains modern dan kearifan lokal, agar pendidikan di Riau semakin maju dan tetap berakar pada budaya setempat.