Inovasi Pembelajaran, Dosen Fadiksi Unilak Kembangkan Kembali Metode Klasik Mengajar Bahasa Inggris

PEKANBARU – Kosakata adalah pengetahuan paling dasar yang perlu dimiliki bagi semua pelajar bahasa. Tetapi pembelajaran di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun perguruan tinggi masih menunjukkan kesenjangan pengajaran khusus kosakata di dalam ruang kelas. Kebanyakan metode pengajaran kosakata masih tidak efektif dalam membuat siswa nyaman untuk berani berbicara atau menulis dalam Bahasa Inggris. Hal ini menjadi tantangan bagi sebagian besar guru di Kota Pekanbaru, khususnya guru bahasa Inggris di SMA PGRI Pekanbaru.
Kepala sekolahnya, Elpisno, S.Pd. (Senin, 4/11/24), mengungkapkan bahwa guru perlu menerapkan berbagai inovasi agar pembelajaran yang dialami oleh siswa terasa semakin mudah dan menyenangkan.
Menanggapi permasalahan tersebut, tim Dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan dan Vokasi, Universitas Lancang Kuning (Fadiksi Unilak) yang terdiri dari M. Fadhly Farhy Abbas, S.Pd., M.Pd., Herdi, S.Pd., M.Pd., dan Tatum Derin, S.Pd., M.Phil. beserta 2 orang mahasiswa, Fatma Setya Ningrum dan Meutya Rizki Ramadhani, menyoroti perhatian dan memberi pelatihan cara-cara inovatif untuk memperbarui penggunaan dua metode pengajaran kosakata yang lumayan populer dan sudah lama diterapkan, yaitu permainan rantai kosakata (vocabulary chain) dan bercerita (storytelling).

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk membuka wawasan para guru mengenai pentingnya untuk kelas lebih menginvestasi waktu untuk fokus ke kegiatan penggunaan kosakata (vocabulary), bukan penghafalan kosakata. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Desember 2024, di ruang pertemuan guru SMA PGRI Pekanbaru dengan baik dan lancar.
“Pengajaran kosakata sering dilakukan dengan memberikan berbagai macam kata-kata Bahasa Inggris dan artinya dalam Bahasa Indonesia secara terisolasi, lalu guru berekspektasi siswa-siswi untuk bisa menghafal seluruh daftar kosakata tersebut dan langsung mengetahui cara menggunakan kata-kata baru tersebut dalam suatu kalimat,” ujar Fadhly, selaku ketua tim kegiatan pengabdian kepada masyarakat,
“Padahal ini bukan cara yang efektif dan juga kurang realistis,” terang Fadhly lagi.
Menurut Fadhly, Vocabulary chain, alias word chain, sangat bagus untuk memicu siswa untuk menggunakan dan mengumpulkan kosakata-kosakata yang seluruh siswa di suatu kelas sudah ketahui. Tetapi signifikansi metode ini sering tidak terealisasi.
“Yang saya perhatikan ketika studi di Kerajaan Britania Raya adalah betapa banyak variasi penerapan vocabulary chain,” ungkap Miss Derin menambahkan.

“Game ini bukan hanya warm-up yang fun, tapi bisa menjadi bahan materi pengajaran grammar. Ada variasi mirip scrabble, variasi fokus ke konsep bidang ilmu lain, bisa murni lewat tulisan atau verbal, dan tentu bisa juga digunakan untuk belajar bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris,” katanya lagi.
Tetapi agar pengumpulan kosakata ini memberikan nilai yang maksimal untuk para pelajar, guru-guru bisa mengkombinasikannya dengan storytelling yang singkat.
“Sependek tiga kalimat saja sudah cukup agar siswa bisa menghubungkan kosakata-kosakata tersebut dengan konteks, sehingga mereka benar-benar paham kata-kata baru, bukan hanya ingat tiga, lima atau sepuluh kata lalu lupa beberapa jam kemudian,” ujar Herdi menambahkan
Alhasil guru bahasa Inggris SMA PGRI Pekanbaru memberikan respon positif dan lebih dalam pemahamannya mengenai pentingnya mengajar kosakata dengan cara yang mendorong semua siswa.
“Meskipun vocabulary chain dan storytelling bukanlah hal yang baru, saya baru tahu ternyata bisa diterapkan dengan cara yang begitu banyak,” respon salah seorang guru SMA PGRI Pekanbaru.
Tim dosen Fadiksi Unilak mengakhiri pelatihan dengan memaparkan bagaimana Fadiksi melatih mahasiswanya, yang mayoritasnya adalah calon-calon tenaga pendidik, bisa terus berinovasi dan menginspirasi. Fadiksi Unilak akan membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru. Gelombang pertama bisa mendaftar ke www.unilak.ac.id mulai dari tanggal 3 Januari hingga 1 April 2025.