PEKANBARU – Masifnya intervensi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi komputasi belakangan ini memicu kekhawatiran publik mengenai masa depan profesi akuntan.
Menanggapi fenomena disrupsi tersebut, Dosen Magister Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), Dr. Indarti, SE., MM., Ak., CA., CRGP., CIISA., CIFA., CRMP, memberikan ulasan mencerahkan. Menurutnya, kekhawatiran publik adalah hal wajar, namun teknologi ini tidak hadir untuk mematikan profesi akuntansi.
“AI sesungguhnya tidak sedang menggantikan profesi akuntan, melainkan mengubah cara kerja dan memperluas peran akuntan di era digital,” ungkap Dr. Indarti.
Beliau memaparkan bahwa teknologi AI memang sangat efektif dalam mengotomatisasi pekerjaan rutin, terstruktur, dan berbasis aturan seperti pencatatan transaksi, rekonsiliasi data, hingga penyusunan laporan standar.
Namun, justru karena efisiensi tersebut, peran akuntan kini bergeser dari sekadar guardian of numbers menjadi analis, penasihat bisnis, pengelola risiko, dan penjaga tata kelola perusahaan.
Beliau menegaskan terdapat kompetensi inti manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin, mulai dari professional judgment (pertimbangan profesional), skeptisisme profesional, etika dan integritas, hingga kemampuan komunikasi interpersonal.
“AI dapat memberikan rekomendasi berdasarkan data, tetapi tidak dapat memahami sepenuhnya konteks bisnis, budaya organisasi, konflik kepentingan, maupun konsekuensi etis dari suatu keputusan. Masa depan profesi akuntansi bukanlah persaingan antara manusia dan mesin, melainkan kolaborasi antara keduanya,” tegas Dr. Indarti.
Di era digital, akuntan harus bertransformasi menjadi guardian of trust, risk, governance, and strategic value bagi organisasi.
Menghadapi komputasi modern, Dr. Indarti menilai akuntan tingkat magister wajib menguasai kombinasi kompetensi baru agar bertindak sebagai strategic knowledge integrator yang mampu mengendalikan teknologi.
Keterampilan mutakhir yang harus dikuasai meliputi Data Analytics dan Business Intelligence, AI Literacy, Cybersecurity Awareness, Digital Risk Management, hingga Digital Audit secara real-time.
Sejalan dengan tantangan global tersebut, arah pengembangan kurikulum Magister Akuntansi saat ini dituntut untuk bergerak melampaui paradigma tradisional pelaporan keuangan dan kepatuhan semata.
Kurikulum yang adaptif harus membekali mahasiswa pascasarjana dengan kemampuan memahami bagaimana teknologi mengubah model bisnis, pola risiko, serta proses operasional perusahaan melaui pendekatan aplikatif seperti bedah studi kasus nyata, simulasi keputusan, dan analisis risiko digital.
“Ke depan, keberhasilan program Magister Akuntansi tidak lagi diukur dari seberapa banyak standar dan regulasi yang dikuasai mahasiswa, tetapi dari kemampuannya menghasilkan lulusan yang mampu menjadi technology-enabled strategic advisor,” pungkas Dr. Indarti di akhir pemaparannya.
Lulusan harus menjadi profesional yang menguasai akuntansi, memahami teknologi, mampu mengelola risiko, serta memiliki kapasitas kepemimpinan dalam mendukung tata kelola dan keberlanjutan organisasi.
Melalui pandangan strategis ini, Sekolah Pascasarjana Unilak terus berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang responsif terhadap dinamika zaman.
Dengan mencetak lulusan Magister Akuntansi yang cakap teknologi dan matang secara analitis, Unilak siap berkontribusi nyata dalam melahirkan para penasihat bisnis masa depan yang mampu memimpin transformasi organisasi secara akuntabel, adaptif, dan berintegritas tinggi di era digital.