Belajar Pascabencana Tak Bisa Kaku, Akademisi Soroti Peran Fleksibilitas dan Empati

PEKANBARU — Kebijakan pembelajaran di sekolah terdampak bencana perlu dijalankan secara fleksibel dan empatik agar pendidikan tetap berlangsung bermakna dan berkeadilan. Pendekatan ini dinilai penting mengingat kondisi siswa pascabencana sangat beragam, baik dari sisi psikologis, sosial, maupun lingkungan fisik.
Dosen Pedagogi Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Dr. Indra Purnama, M.Sc., menyampaikan bahwa fleksibilitas pembelajaran dan asesmen merupakan prasyarat utama dalam penyelenggaraan pendidikan pascabencana. Menurutnya, pembelajaran tidak dapat dijalankan secara seragam dan kaku dengan hanya berorientasi pada target kurikulum.
“Pascabencana, siswa menghadapi kondisi belajar yang sangat beragam. Oleh karena itu, pembelajaran tidak dapat dijalankan secara seragam dan kaku berbasis target kurikulum semata. Fleksibilitas memungkinkan guru menyesuaikan pendekatan dan strategi pembelajaran dengan realitas yang dihadapi siswa,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam konteks pedagogi pascabencana, penguatan literasi lingkungan menjadi relevan agar siswa mampu memahami bencana sebagai bagian dari interaksi manusia dan lingkungan. Pendekatan ini sekaligus membangun kesadaran akan keberlanjutan dan mitigasi risiko sejak dini.
Selain pembelajaran, fleksibilitas asesmen juga perlu dimaknai sebagai upaya memanusiakan proses evaluasi belajar. Asesmen tidak semata berfokus pada hasil akhir, tetapi menekankan proses, refleksi, dan keterlibatan aktif siswa.
“Asesmen pascabencana sebaiknya menekankan proses dan refleksi melalui berbagai bentuk penilaian alternatif, seperti proyek, portofolio, atau dokumentasi pengalaman belajar,” ujarnya.
Dr. Indra juga menyoroti potensi pendekatan citizen science yang dapat dimanfaatkan lintas mata pelajaran. Melalui pengamatan lingkungan, pencatatan perubahan sosial pascabencana, hingga pengumpulan data sederhana, siswa dapat terlibat aktif dalam pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendekatan empatik dan dukungan psikososial merupakan fondasi keberlanjutan pembelajaran pascabencana. Guru berperan penting dalam menciptakan ruang belajar yang aman secara emosional dengan mengakui pengalaman dan keterbatasan siswa.
“Pembelajaran berbasis empati, dialog, dan pemecahan masalah nyata dapat membantu siswa memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri. Pendidikan pascabencana tidak hanya menjaga kontinuitas akademik, tetapi juga membentuk peserta didik yang tangguh dan berempati,” pungkasnya.