Persembahan untuk Keluarga Besar PGRI, Dari Santiago, Chile untuk Guru Indonesia

    SANTIAGO, CHILE – Dalam sebuah forum internasional yang mempertemukan berbagai tokoh pendidikan dunia, Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam sesi panel bersama Menteri Pendidikan Chile. Momen bersejarah ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, melainkan juga sebuah persembahan penuh cinta untuk keluarga besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
    Sesi panel tersebut berlangsung hangat dan penuh makna. Prof. Unifah menekankan pentingnya social dialogue antara organisasi guru dan pemerintah. Menurutnya, tanpa adanya ruang dialog sosial yang sehat dan konstruktif, mustahil membangun ekosistem pendidikan yang berkeadilan. Guru, dosen, dan tenaga kependidikan bukanlah sekadar aparatur pelaksana, melainkan juga mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
    Hadiah Istimewa: Tulisan Gabriela Mistral
    Di luar dugaan, Prof. Unifah menerima sebuah hadiah yang sangat berkesan: tulisan asli Gabriela Mistral, penyair sekaligus guru asal Amerika Latin yang menjadi perempuan pertama dari kawasan tersebut yang meraih Nobel Sastra pada tahun 1945. Bagi Prof. Unifah, hadiah ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan juga simbol penghargaan atas dedikasi guru. Gabriela Mistral dikenal sebagai tokoh yang sepanjang hidupnya memperjuangkan pendidikan, kemanusiaan, dan hak-hak kaum kecil melalui karya sastranya.
    Hadiah ini mempertegas makna kehadiran PGRI di panggung global. Bahwa perjuangan guru Indonesia tidak terlepas dari perjuangan universal para pendidik di seluruh dunia. Dengan kata lain, suara guru Indonesia kini telah menjadi bagian dari percakapan internasional tentang pendidikan dan keadilan sosial.
    Suara Guru Indonesia di Forum Dunia
    Dalam paparannya, Prof. Unifah menyampaikan beberapa poin penting yang menjadi aspirasi guru Indonesia:
    1. Perlakuan yang setara bagi PPPK
    Guru, dosen, dan tenaga kependidikan yang telah diangkat sebagai PPPK harus segera disetarakan statusnya dengan ASN lainnya. Tidak boleh ada diskriminasi, karena mereka bekerja, mengabdi, dan memberikan jasa yang sama bagi negara.
    2. Penyelesaian status paruh waktu
    Masih banyak tenaga pendidik yang bekerja dengan status paruh waktu tanpa kepastian. Hal ini menimbulkan keresahan sekaligus merugikan masa depan mereka. PGRI meminta agar pemerintah menyelesaikan persoalan ini dengan memberi jaminan yang layak.

    3. Dialog sosial yang berkesinambungan
    Hubungan antara organisasi profesi guru dan pemerintah tidak boleh berhenti pada tataran formalitas. Perlu ada komitmen bersama untuk membuka ruang komunikasi yang sejajar, transparan, dan berlandaskan pada keadilan.
    4. Menjamin masa depan guru dan tenaga kependidikan
    Peningkatan kualitas pendidikan tidak akan pernah lepas dari kesejahteraan dan kepastian kerja para pendidik. Oleh karena itu, keberpihakan pemerintah terhadap guru harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan hanya retorika.
    Persembahan untuk Keluarga Besar PGRI
    Semua yang disampaikan Prof. Unifah dalam forum internasional ini bukanlah semata-mata untuk pribadi. Ia menegaskan bahwa perjuangan ini adalah persembahan tulus untuk seluruh guru, dosen, dan tenaga kependidikan yang tergabung dalam keluarga besar PGRI.
    Suara yang lantang disuarakan di Santiago adalah suara kolektif para guru Indonesia yang selama ini terus berjuang dalam diam, mengabdi di ruang-ruang kelas, di pelosok desa, di kota-kota besar, hingga di daerah terpencil. Suara itu adalah gema dari hati nurani para pendidik yang menginginkan keadilan, kepastian, dan penghormatan.
    Harapan untuk Masa Depan
    Dengan membawa pulang tulisan Gabriela Mistral, Prof. Unifah seolah ingin mengingatkan kita semua bahwa perjuangan guru adalah perjuangan kemanusiaan. Apa yang diperjuangkan hari ini di forum internasional, kelak akan memberi makna besar bagi masa depan pendidikan Indonesia.
    Melalui forum ini, dunia mendengar suara PGRI. Dan melalui artikel ini, keluarga besar PGRI di tanah air tahu bahwa perjuangan mereka tidak sendirian. Ada suara yang menggelegar dari Santiago, Chile, yang terus menggemakan aspirasi guru Indonesia: “Kita tidak boleh berhenti memperjuangkan masa depan guru, sebab di pundak merekalah masa depan bangsa diletakkan.”