HANGZHOU, CHINA – Hubungan pendidikan Indonesia dan China terus membuka peluang baru. Hal itu terlihat dari kehadiran delegasi Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) dalam ajang Worlddidac Asia 2026 di Hangzhou, China.
Kegiatan yang berlangsung di Hangzhou Grand Convention and Exhibition Center pada 15–17 September 2026 tersebut mempertemukan akademisi, institusi pendidikan, pelaku industri, serta pengembang teknologi pendidikan dari berbagai negara.
Delegasi Indonesia memanfaatkan momentum tersebut bukan sekadar untuk melihat perkembangan teknologi pendidikan, tetapi juga membangun jaringan dan membuka peluang kerja sama konkret dengan perguruan tinggi dan mitra pendidikan di China.
Delegasi di antaranya berasal dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), yakni Prof. Evi Satispi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prof. Andriansyah, Maya Puspita Dewi, dan Prof. Sri Yunanto. Turut hadir Prof. Adolf Bastian dari Universitas Lancang Kuning serta perwakilan ADI.
Prof. Evi: Jangan Hanya Menjadi Penonton
Mewakili Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Evi Satispi mengatakan perkembangan teknologi pendidikan yang diperlihatkan di Hangzhou menjadi pelajaran penting bagi perguruan tinggi Indonesia.
“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton perkembangan teknologi pendidikan. Kita harus membangun kerja sama dan menjadi bagian dari ekosistem inovasi tersebut,” ujar Prof. Evi.

Menurutnya, jaringan pendidikan Muhammadiyah yang luas menjadi modal penting untuk membangun kerja sama internasional.
“Peluangnya sangat terbuka, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, seminar internasional, hingga pengembangan teknologi pembelajaran. Yang terpenting, setelah kunjungan ini harus ada tindak lanjut yang konkret,” katanya.
Prof. Adolf: Peluang Besar untuk Riau
Sementara itu, Prof. Adolf Bastian melihat kehadiran di Hangzhou sebagai kesempatan untuk membawa pengalaman dan peluang kerja sama tersebut ke Riau, khususnya Universitas Lancang Kuning.
“China berkembang sangat cepat dalam teknologi dan pendidikan. Kita perlu belajar, membangun jejaring, dan mencari ruang kolaborasi yang bisa memberikan manfaat langsung bagi perguruan tinggi dan masyarakat di Riau,” kata Prof. Adolf.
Ia melihat peluang kerja sama tidak hanya terbatas pada pendidikan tinggi.
“Kita dapat menjajaki pengembangan pendidikan vokasional, teknologi pembelajaran, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa, bahkan membuka peluang kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi dan dunia industri,” ujarnya.
Menurut Prof. Adolf, konektivitas dengan China juga dapat menjadi pintu bagi generasi muda Riau untuk mengenal perkembangan teknologi dan sistem pendidikan internasional secara lebih dekat.
Jajaki Kerja Sama dengan Zhejiang University
Selain mengikuti Worlddidac Asia 2026, delegasi ADI juga melakukan pertemuan dengan School of Public Affairs, Zhejiang University pada Jumat, 18 September 2026.
Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah peluang kerja sama, seperti program dual degree, pertukaran mahasiswa, seminar dan konferensi bersama, serta penelitian kolaboratif di bidang e-government, teknologi, dan ilmu sosial-politik.














