PEKANBARU — Suasana di depan Gedung Rektorat Universitas Lancang Kuning (Unilak) memanas pada Selasa (28/04) siang. Aliansi Mahasiswa Peduli Unilak (AMPUN) melakukan “geruduk” massa untuk menagih janji transparansi dan akuntabilitas yang selama ini dinilai tersumbat. Aksi ini merupakan ledakan dari keresahan mahasiswa yang merasa aspirasi mereka selama ini hanya dianggap angin lalu.
Pantauan di lokasi, massa aksi membentangkan spanduk-spanduk kecaman dan menggunakan pengeras suara untuk membongkar sederet persoalan krusial. Hadirnya mahasiswa di depan gedung Rektorat ini untuk membawa Rektor Unilak keluar dari ruangannya serta memberikan penjelasan terbuka.
Koordinator Lapangan, Ahmad Nasir Harahap, dalam orasinya yang berapi-api, membedah pembangunan dan kebijakan keuangan kampus yang dinilai mencekik mahasiswa. Fokus massa pada waktu itu yakni dugaan kegagalan proyek pembangunan turap yang telah roboh dan anggaran Rp10 milliar untuk pembangunan kelas serbaguna yang dicurigai tanpa perencanaan sehingga kualitas bangunan bermasalah secara struktur dan kedepannya tentu membahayakan untuk keselamatan ruang perkuliahan, apalahlagi bangunan tersebut dibangun oleh vendor yang sama dengan proyek turap yang terah roboh.
Selain itu para mahasiswa juga menuntut perkara lain seperti penurunan kualitas toga yang jauh daripada sebelumnya.
“Kami tidak datang untuk berwisata! Kami datang untuk menuntut kemana perginya uang mahasiswa? Proyek digelontorkan, tapi turap saja roboh berkali-kali. Rektor harus buka mata, biaya wisuda dan SPP naik terus, tapi kualitas fasilitas dipertanyakan. Jangan jadikan kampus ini ladang bisnis yang tertutup!” tegas Ahmad di tengah kepungan massa.
Upaya mahasiswa untuk melakukan audiensi langsung dengan Rektor Unilak sempat menemui jalan buntu. Hingga aksi berakhir, pimpinan tertinggi universitas tersebut tidak menampakkan diri untuk berdialog langsung di tengah teriknya matahari bersama mahasiswa.
Sikap bungkam dari pihak Rektorat ini dinilai semakin memperkeruh suasana dan memicu mosi tidak percaya dari civitas akademika. Jika ruang dialog terus tertutup, aliansi mahasiswa mengancam akan membawa gelombang massa yang lebih besar untuk menuntut perombakan total pada sistem tata kelola keuangan dan pembangunan di Universitas Lancang Kuning.