Mahasiswa Magister Pedagogi Unilak Kembangkan Modul IPAS Bermuatan Budaya Melayu

PEKANBARU — Mahasiswa Program Studi Magister Pedagogi Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Idha Arofatun Budiarti, berhasil menyelesaikan ujian tesis dengan mengangkat tema pengembangan pembelajaran berbasis budaya lokal. Penelitian tersebut menitikberatkan pada penguatan literasi sains dan budaya siswa sekolah dasar melalui pengembangan modul ajar IPAS.
Dalam ujian tesisnya, Ida mengangkat judul “Pengembangan Modul Ajar IPAS Bermuatan Etnostem Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Literasi Sains dan Budaya Siswa Kelas V SD Negeri 004 Bagan Timur.” Penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya literasi budaya lokal pada siswa sekolah dasar.

“Saya melihat di lapangan bahwa anak-anak SD masih minim literasi budaya daerah tempat tinggal mereka sendiri. Dari situ saya berpikir bagaimana pembelajaran bisa lebih mengangkat budaya daerah,” ungkap Ida saat diwawancarai usai ujian tesis.
Ia menjelaskan bahwa mata pelajaran IPAS yang mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki potensi besar untuk memuat nilai-nilai budaya lokal. Namun, berdasarkan hasil observasi terhadap capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, serta sumber belajar yang digunakan, muatan budaya yang disajikan masih bersifat umum.

“Dalam sumber belajar yang ada, nilai budayanya masih umum dan belum memuat budaya lokal kita sendiri, khususnya budaya Melayu. Padahal dari hasil observasi, banyak siswa yang belum mengenal budaya mereka sendiri,” jelasnya.
Melalui penelitian ini, Ida mengembangkan modul ajar IPAS yang mengintegrasikan konsep sains dan sosial dengan budaya lokal Melayu. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya membantu siswa memahami materi pembelajaran secara ilmiah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan jati diri dan budaya mereka sendiri.
“Siswa tidak hanya belajar secara ilmiah, tetapi juga belajar tentang budaya mereka sendiri. Harapannya, mereka memahami jati diri dan budaya lokal yang mereka miliki,” tambahnya.

Ke depan, Ida berharap hasil penelitiannya dapat terus dikembangkan, baik dari sisi media maupun implementasi pembelajaran.
“Saya berharap modul ajar ini bisa dikembangkan menjadi lebih interaktif, misalnya dengan media digital atau modul interaktif, dan dapat diterapkan oleh lebih banyak guru dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penguatan literasi budaya sangat penting untuk ditanamkan sejak dini, mengingat rendahnya pemahaman siswa terhadap budaya lokal di lingkungan mereka. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan pembelajaran IPAS yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal.