PEKANBARU – Takdir boleh membawa jalan yang berbeda, tetapi tekad dan usaha adalah kunci membuka pintu kesuksesan.
Terlahir dalam keluarga sederhana, seorang perempuan tangguh yang tidak pernah berhenti bermimpi kini membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi terbesar dalam hidup. Lahir dari ayah tercinta, H. Muchtar Latif, dan ibu Hj. Ramona, Dr. Yuhelmi, M.Kom dididik dalam lingkungan penuh kasih sayang dan kedisiplinan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang penurut, rendah hati dan penuh tekad untuk selalu membahagiakan kedua orang tuanya.
“Dulu saya tidak banyak menuntut, sederhana dan bersahaja. Namun, saya selalu berusaha menjadi yang terbaik di bidang akademik. Alhamdulillah, dari SD hingga SMA saya selalu rangking satu, bahkan juara umum di SMP,” tuturnya mengenang masa kecilnya.
Meski awalnya bercita-cita menjadi seorang dokter, takdir membawanya ke jalan lain yang tak kalah mulia, yakni menjadi tenaga pendidik. Tahun 2000 menjadi langkah awal perjuangannya saat menjejakkan kaki di Universitas Lancang Kuning (Unilak). Awalnya, dia bekerja sebagai staf di pusat komputer bersama rekan setia, Dr. Adek. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari ia akan meraih gelar Doktor (S3).

Perjalanan pendidikannya dimulai dari gelar S1. Berkat dukungan luar biasa dari Prof. Irwan Effendi, Rektor Unilak saat itu, dia berhasil melanjutkan pendidikan S2 melalui beasiswa penuh tanpa mengeluarkan biaya pribadi.
“Alhamdulillah, S2 saya tempuh hanya dalam 1,8 tahun,” sebutnya.
Selama menjadi dosen, Dr. Yuhelmi, M.Kom terus menunjukkan prestasi gemilang. Empat kali mendapatkan hibah dana penelitian dari Dikti dan berhasil menerbitkan lima buku ber-ISBN serta berpartisipasi di berbagai konferensi internasional.
Namun, semangatnya untuk menimba ilmu tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2017, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Negeri Padang (UNP). Menggunakan dana hasil penelitian, dia berhasil menyelesaikan enam semester pertama. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Tantangan keuangan sempat memaksanya untuk mengambil cuti kuliah pada tahun 2020.
“Saat itu, saya bingung karena ada tunggakan yang harus diselesaikan sebelum wisuda. Tapi Allah SWT itu Maha Baik. Bantuan datang dari Fakultas Ilmu Komputer, pinjaman dari Unilak, dan koperasi. Alhamdulillah, semuanya dapat teratasi,” ungkapnya kepada awak media
Dalam disertasinya, wanita berparas lemah lembut tapi tegas ini mengembangkan “Model Pembelajaran Soft Skill-Based Learning” pada mata kuliah kewirausahaan berbasis web. Karya ini membawa keterbaharuan dengan menggabungkan dua teori besar, yakni Experiental Learning dan Active Learning.














