PEKANBARU – Penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang semakin ketat oleh pasar global, khususnya Eropa dan Amerika, menjadi ujian berat bagi eksportir komoditas andalan Provinsi Riau seperti kelapa sawit dan pulp and paper. Menuntut pembuktian rantai pasok yang ramah lingkungan dan bebas deforestasi, regulasi ini memaksa pelaku usaha untuk bertransformasi.
Merespons dinamika tersebut, Dosen Program Studi Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., memberikan analisis mendalam terkait kesiapan dan langkah krusial yang harus diambil oleh dunia usaha di Riau.
Menurut Dr. Richa, kesiapan ekosistem rantai pasok lokal di Riau saat ini masih berada pada tahap berkembang dan belum terintegrasi secara matang. Ia menilai bahwa korporasi skala besar umumnya sudah mulai beradaptasi dengan regulasi global.
“Perusahaan besar di sektor kelapa sawit dan pulp and paper relatif telah mulai menyesuaikan diri melalui sertifikasi keberlanjutan, pelaporan ESG, dan penguatan sistem traceability (keterlacakan),” ungkap Dr. Richa.
Meski demikian, titik kritis dari rantai pasok ini justru berada di tingkat hulu. Dr. Richa menyoroti tingginya ketimpangan kesiapan antara korporasi besar dengan pelaku usaha kecil maupun petani mandiri. Pemasok di tingkat hulu masih kerap berbenturan dengan keterbatasan kapasitas, rendahnya literasi terhadap regulasi global, serta minimnya dukungan teknologi.
“Kesiapan strategis ini belum cukup jika hanya bersifat internal di perusahaan besar saja, melainkan harus berbasis ekosistem yang solid dan kolaboratif dari hulu ke hilir,” tambahnya.
Agar komoditas Riau tidak kehilangan pasar dan ditolak oleh komunitas internasional, Dr. Richa menekankan perlunya pergeseran paradigma (mindset) di kalangan pelaku industri.
“Langkah transformasi bisnis yang paling mendesak adalah menjadikan ESG sebagai strategi inti (core strategy) dan sumber keunggulan kompetitif, bukan sekadar kewajiban kepatuhan semata,” tegasnya.
Penerapan ESG sebagai strategi inti ini menuntut aksi nyata yang komprehensif. Beberapa langkah konkret yang disarankan meliputi percepatan digitalisasi demi transparansi rantai pasok, komitmen penuh pada produksi bebas deforestasi dan rendah emisi, serta penguatan tata kelola (governance) dan manajemen risiko keberlanjutan.
Selain itu, ia juga mendorong perusahaan-perusahaan besar untuk tidak berjalan sendiri, melainkan mau berinvestasi dalam program peningkatan kapasitas para mitra rantai pasoknya agar seluruh sistem bisnis mampu memenuhi standar global secara konsisten.
“Dengan transformasi yang terstruktur dan inklusif, komoditas unggulan Riau tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memperkuat posisi tawar di pasar internasional yang semakin selektif,” pungkas Dr. Richa.