RIAUSMART.COM – Amerika Serikat biasanya dikenal sebagai donatur utama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Namun, aliansi ini pernah menghadapi masalah besar ketika Donald Trump berencana mengeluarkan AS dari keanggotaan NATO. Dikutip dari CNBC pada Sabtu (8/11/2025).
Mantan Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengungkapkan ketegangan terjadi setelah Trump mengancam akan keluar dari aliansi tersebut. Hal ini disampaikan Stoltenberg dalam bukunya yang akan diterbitkan, On My Watch.
Ia mengingat KTT NATO 2018 di Brussel, ketika Trump menuduh AS menanggung 80%-90% biaya operasional aliansi dan mengancam akan pergi.
“Dengar, jika kami pergi, kami pergi. Anda membutuhkan NATO, sangat membutuhkan. Kami tidak membutuhkan NATO,” ujar Trump, seperti dikutip oleh Stoltenberg. Ia juga menegaskan bahwa jika AS meninggalkan blok itu, “aliansi itu akan mati.”
Trump menegaskan pernyataan serupa di kemudian hari. Ia menyatakan bahwa AS “tidak membutuhkan NATO” dan akan “menjalankan urusannya sendiri” jika negara-negara Eropa tidak meningkatkan belanja militer hingga 2 persen dari PDB mereka.
Ia bahkan mengancam akan pergi dan meninggalkan aliansi dengan mengatakan, “Tidak ada alasan bagi saya untuk berada di sini lagi.”
Sikap keras Trump membuat kekhawatiran bahwa NATO akan runtuh. Stoltenberg menyebut bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berusaha meringankan ketegangan.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, yang saat ini memimpin NATO, membantu meyakinkan Trump untuk tetap tinggal.
Rutte berhasil meyakinkan Trump dengan menunjukkan bahwa anggota aliansi telah meningkatkan belanja militer sebesar US$33 miliar. Trump kemudian setuju untuk tetap berada di NATO setelah mendapatkan pujian atas peningkatan belanja tersebut.
Stoltenberg juga menulis bahwa jika Trump benar-benar keluar, perjanjian dan keamanan aliansi tersebut akan berkurang nilai.
“Episode tersebut menyoroti betapa tergantungnya kami pada partisipasi AS,” katanya.
Di sisi lain, Moskow terus menyatakan kekhawatiran terhadap peningkatan militerisasi NATO dalam beberapa tahun terakhir.
Mereka menggambarkan ekspansi ke arah timur sebagai salah satu penyebab utama konflik Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, baru-baru ini menyatakan bahwa NATO secara de facto sedang berperang dengan Rusia. Tulis (Mo).