PEKANBARU – Isu kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat kembali menjadi sorotan dalam pelaksanaan ujian tesis Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning.
Salah satu peserta ujian tesis, dr. Hj. Arnita Sari, mengangkat penelitian bertajuk “Kearifan Lokal Masyarakat Desa Sungai Mempura dalam Menjaga Kelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (Studi Desa Wisata Sungai Mempura Kabupaten Siak)”.
Dalam penelitiannya, Arnita menyoroti peran kearifan lokal masyarakat Melayu dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam, sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan. Ia menilai bahwa setiap desa pada dasarnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, apabila dikelola dengan prinsip pelestarian lingkungan.
“Setiap desa sebenarnya punya potensi masing-masing. Ketika masyarakat menjaga alamnya, hasilnya bukan hanya lingkungan yang lestari, tetapi juga ekonomi masyarakat yang berkelanjutan,” ungkap Arnita saat diwawancarai usai ujian tesis.
Arnita yang berlatar belakang profesi dokter dan memiliki pengalaman sebagai anggota DPRD Provinsi Riau selama lima tahun, mengaku ketertarikannya pada kajian lingkungan berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak hanya merusak alam, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia mencontohkan praktik pengelolaan desa di beberapa daerah yang mampu membagi hasil pengelolaan sumber daya alam kepada masyarakat karena keberhasilan menjaga kelestarian lingkungan. Praktik tersebut dinilai dapat menjadi model pembangunan desa berbasis kearifan lokal yang patut dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia.
Pemilihan Desa Wisata Sungai Mempura sebagai lokasi penelitian juga didasarkan pada kuatnya nilai budaya Melayu yang masih terjaga secara turun-temurun. Hal ini memudahkan peneliti dalam menggali dan mengkristalkan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
“Budaya Melayu di Siak masih sangat kental dan menjadi identitas masyarakat. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal sosial dalam menjaga alam dan lingkungan,” jelasnya.
Apresiasi terhadap kajian tesis tersebut juga disampaikan oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Prof. Dr. Adolf Bastian, S.Pd., M.Pd., yang menilai penelitian ini memiliki relevansi kuat dengan tantangan lingkungan hidup saat ini.
“Kajian tesis ini menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan hidup dapat dijawab melalui pendekatan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Ini menjadi contoh penting bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus datang dari luar, tetapi dapat bersumber dari nilai-nilai budaya lokal yang telah teruji secara turun-temurun,” ujarnya.
Menurutnya, penelitian berbasis kearifan lokal seperti ini sejalan dengan arah pengembangan keilmuan di Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning yang mendorong riset aplikatif, kontekstual, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Ke depan, Arnita berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan desa yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan harus dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara kolektif.
“Kalau alam rusak, manusianya juga akan terdampak. Menjaga keseimbangan ekosistem berarti menjaga hajat hidup orang banyak dan masa depan generasi berikutnya,” tutupnya.