Wacana Bahasa Prancis di Sekolah: Kaprodi Magister Pedagogi Unilak Sebut Strategis, Namun Perlu Perencanaan Matang

PEKANBARU — Wacana Presiden Prabowo Subianto yang menghendaki agar bahasa Prancis diajarkan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terus menuai perhatian dari berbagai kalangan akademisi. Menanggapi gagasan tersebut, Ketua Program Studi Magister Pedagogi Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), Associate Professor Dr. Marwa, S.Pd.I., M.A., menilai langkah ini memiliki nilai strategis yang kuat bagi masa depan kompetensi global peserta didik di Indonesia.
Menurut Dr. Marwa, penguasaan bahasa asing di luar bahasa Inggris dapat menjadi modal investasi yang sangat penting bagi generasi muda di tengah era globalisasi yang kian kompetitif. Terlebih, bahasa Prancis memegang posisi krusial sebagai salah satu bahasa internasional utama yang digunakan dalam ranah diplomasi, hubungan internasional, pendidikan tinggi, hingga sektor ekonomi dan budaya dunia.
“Dari perspektif pendidikan, semakin banyak pilihan bahasa asing yang dapat dipelajari peserta didik tentu menjadi peluang yang baik untuk memperluas wawasan global mereka. Bahasa Prancis memiliki posisi penting dalam komunikasi internasional dan dapat membuka akses terhadap berbagai kesempatan akademik maupun profesional,” ujar Dr. Marwa.
Meski menilai gagasan ini sangat positif, pakar pendidikan dari Unilak ini menggarisbawahi bahwa efektivitas implementasi kebijakan di lapangan akan sangat bergantung pada kesiapan sistem pendukungnya, bukan sekadar visi yang bagus. Ada berbagai aspek teknis dan akademis yang wajib dihitung secara cermat oleh pemerintah.
Beberapa poin krusial yang harus menjadi perhatian utama meliputi ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten di bidang bahasa Prancis, kesiapan kurikulum, ketersediaan bahan ajar, pelatihan guru yang merata, hingga jaminan dukungan anggaran yang berkelanjutan. Faktor perbedaan kondisi dan kebutuhan khusus di setiap daerah di Indonesia juga tidak boleh diabaikan.
Oleh karena itu, Dr. Marwa menyarankan agar pemerintah mengambil pendekatan bertahap sebagai langkah yang paling realistis jika kebijakan ini nantinya benar-benar direalisasikan.
“Langkah awal bisa dilakukan melalui program percontohan (pilot project) di sejumlah sekolah, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler, atau menjadikannya sebagai mata pelajaran pilihan terlebih dahulu sebelum diterapkan secara lebih luas,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar semangat penguatan bahasa asing baru ini tetap berjalan selaras dengan agenda nasional lainnya, seperti penguatan literasi bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, serta peningkatan mutu pembelajaran bahasa Inggris yang hingga kini masih menjadi bahasa internasional utama di dunia kerja. Faktor beban kurikulum siswa yang sudah padat juga wajib dipertimbangkan agar tidak memberikan tekanan akademik berlebih bagi siswa maupun guru.
Secara menyeluruh, Sekolah Pascasarjana Unilak memandang wacana ini sebagai gagasan yang sangat layak dikaji demi mendongkrak kualitas SDM Indonesia. Namun, kuncinya ada pada perencanaan yang komprehensif dan pelaksanaan yang terukur.
“Pada prinsipnya, setiap inovasi dalam pendidikan patut diapresiasi. Yang terpenting adalah memastikan bahwa implementasinya didukung oleh kesiapan yang memadai sehingga dapat memberikan dampak positif bagi peserta didik dan sistem pendidikan nasional,” tutup Dr. Marwa.
Secara keseluruhan, wacana pengajaran bahasa Prancis ini dinilai sangat strategis untuk meningkatkan kompetensi global siswa, namun keberhasilannya mutlak memerlukan perencanaan matang terkait kesiapan guru, kurikulum, dan anggaran. Oleh karena itu, pendekatan bertahap seperti program percontohan menjadi langkah paling realistis agar inovasi ini berdampak positif tanpa membebani kurikulum yang sudah ada.