Leadership dan Advokasi K3-Ergonomi Harus Jadi Prioritas di Pabrik Kelapa Sawit

RIAUSMART.COM – Pencegahan kecelakaan kerja di pabrik kelapa sawit tidak cukup hanya mengandalkan SOP, penggunaan APD, dan pelatihan rutin. Risiko kecelakaan di sektor ini lahir dari kombinasi faktor perilaku, mesin, lingkungan kerja, beban fisik, tata letak area kerja, serta lemahnya kepemimpinan dalam menindaklanjuti temuan risiko.
Sebagai sektor industri yang padat aktivitas manual dan penggunaan mesin, pabrik kelapa sawit memiliki potensi bahaya yang kompleks. Pekerja berhadapan dengan risiko terpeleset, terjepit, tertimpa, terpapar panas, kebisingan, kelelahan, hingga gangguan muskuloskeletal akibat postur kerja tidak ergonomis dan aktivitas berulang.
Dalam konteks ini, kepemimpinan K3 atau safety leadership menjadi kunci. Manajemen pabrik harus hadir secara aktif, bukan hanya menyerahkan urusan keselamatan kepada petugas K3. Pimpinan lini, supervisor, P2K3, hingga manajemen puncak perlu memiliki tanggung jawab yang jelas dalam melakukan pengawasan, advokasi anggaran, perbaikan ergonomi, serta evaluasi berbasis data.
Menurut Irham Ansya, S.E., M.K.M., pencegahan kecelakaan kerja harus dipahami sebagai investasi kesehatan masyarakat, bukan sekadar pemenuhan administrasi perusahaan.
“Kecelakaan kerja di pabrik kelapa sawit bukan hanya persoalan pekerja tidak patuh. Sering kali perilaku tidak aman muncul karena desain kerja yang tidak ergonomis, alat bantu yang tidak memadai, lantai licin, beban kerja tinggi, dan lemahnya tindak lanjut manajemen. Karena itu, pekerja tidak boleh hanya diminta bekerja aman, tetapi juga harus didukung oleh lingkungan kerja yang aman,” ujar Irham.
Ia menegaskan, kebijakan K3 di pabrik kelapa sawit perlu bergerak dari pendekatan reaktif menuju pendekatan preventif. Artinya, perusahaan tidak boleh menunggu kecelakaan terjadi baru melakukan evaluasi. Temuan risiko, laporan hampir celaka, keluhan nyeri otot dan rangka, kelelahan, serta paparan panas dan kebisingan harus menjadi dasar perbaikan sistem kerja.
“Manajemen perlu menjadikan BBS terintegrasi ergonomi sebagai kebijakan nyata. Observasi perilaku harus diikuti dengan analisis akar masalah. Bila pekerja tidak menggunakan alat bantu, perlu dilihat apakah alatnya tersedia, nyaman, sesuai ukuran, dan mudah dijangkau. Bila pekerja sering membungkuk, berarti desain kerja harus diperbaiki, bukan sekadar pekerjanya ditegur,” jelasnya.
Irham juga mendorong agar P2K3 diperkuat sebagai ruang advokasi resmi pekerja. Melalui forum ini, pekerja dapat menyampaikan potensi bahaya, kebutuhan alat bantu, masalah ergonomi, serta kondisi kerja yang berisiko. Setiap temuan harus memiliki batas waktu tindak lanjut dan dipantau secara berkala oleh manajemen.
Selain itu, keberhasilan K3 tidak boleh hanya diukur dari klaim “zero accident”. Indikator kesehatan masyarakat perlu dijadikan ukuran keberhasilan, seperti penurunan keluhan muskuloskeletal, peningkatan laporan near miss, kepatuhan APD, jumlah temuan ergonomi yang ditindaklanjuti, penurunan hari kerja hilang, serta pemerataan perlindungan bagi pekerja tetap, kontrak, shift, dan pekerja baru.
“Zero accident penting, tetapi angka nol tidak selalu berarti aman. Bisa saja karena pekerja takut melapor. Karena itu, perusahaan harus membangun budaya pelaporan tanpa menyalahkan. Justru ketika laporan near miss meningkat pada awal program, itu bisa menjadi tanda bahwa kepercayaan pekerja terhadap sistem K3 mulai tumbuh,” tambah Irham.
Ia menilai, kebijakan pencegahan kecelakaan kerja di pabrik kelapa sawit harus memiliki tiga fondasi utama, yaitu kepemimpinan yang akuntabel, advokasi pekerja yang berjalan, dan perbaikan ergonomi yang nyata. Tanpa ketiganya, program K3 berisiko berhenti sebagai dokumen formal tanpa perubahan signifikan di lapangan.
“Keselamatan kerja harus dipimpin, dianggarkan, diawasi, dan dievaluasi. Jika manajemen serius, maka setiap temuan risiko harus berubah menjadi tindakan. Bukan hanya rapat, bukan hanya spanduk, tetapi perbaikan nyata di tempat kerja,” tegasnya.
Melalui penguatan leadership dan advokasi K3 terintegrasi ergonomi, pabrik kelapa sawit diharapkan mampu menurunkan risiko kecelakaan kerja, meningkatkan kesehatan pekerja, memperkuat produktivitas, serta membangun budaya pencegahan yang berkelanjutan.
K3 bukan hanya tanggung jawab pekerja. K3 adalah tanggung jawab sistem, dan sistem tersebut harus dipimpin dengan komitmen, data, dan keberpihakan pada keselamatan manusia.

 

Ditulis Oleh: Irham Ansya, S.E., M.K.M.
Mahasiswa Program Doktoral Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta
Dosen Prodi K3 Universitas Lancang Kuning