PEKANBARU – Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Ambisi besar ini didukung oleh program hilirisasi terhadap 26 komoditas, mulai dari mineral seperti nikel hingga produk agrikultur seperti kelapa sawit dan rumput laut. Dengan potensi penerimaan hingga USD 618 miliar, hilirisasi menjadi agenda strategis yang memerlukan tenaga kerja terampil sebagai tulang punggungnya.
Dalam konteks ini, pendidikan vokasi muncul sebagai solusi yang mampu menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja berkualitas. Pendidikan vokasi dirancang untuk mencetak tenaga kerja siap pakai yang relevan dengan kebutuhan industri, mulai dari pengolahan hasil tambang hingga logistik rantai pasok.
Dr. Rizki Novendra, MMSI, Ketua Program Studi Magister Ilmu Pendidikan Vokasi dan Keteknikan Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), menegaskan pentingnya peran pendidikan vokasi dalam mendukung hilirisasi.
“Pendidikan vokasi adalah pilar utama untuk mewujudkan hilirisasi yang berkelanjutan. Dengan fokus pada pengembangan keterampilan teknis, inovasi kurikulum, dan kolaborasi dengan industri, pendidikan vokasi dapat menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya terampil tetapi juga adaptif terhadap perubahan global,” ujarnya.














