Jawab Tantangan Globalisasi: Pascasarjana Unilak dan Kanwil Kemenag Riau Hadirkan Seminar Bahas Masa Depan Pendidikan

PEKANBARU – Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak) bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau sukses menyelenggarakan seminar akademik bertajuk Transformasi Pendidikan, Isu, Tantangan, dan Solusi.
Seminar yang diikuti oleh 430 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, pengawas dan juga guru dari MI, MTS, MA baik negeri maupun swasta se-provinsi Riau secara daring ini menjadi wadah diskusi komprehensif mengenai dinamika pendidikan di era globalisasi dan teknologi.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Unilak, Prof. Dr. Adolf Bastian, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutannya, Prof Adolf yang juga merupakan Ketua PGRI Provinsi Riau itu menekankan pentingnya pergeseran peran tenaga pendidik dalam menjalankan tugas profesional berbasis teknologi.Dekan SPs Unilak itu menyampaikan bahwa transformasi pendidikan menuntut tenaga pendidik untuk lebih adaptif terhadap perubahan teknologi agar pembelajaran menjadi lebih efektif, efisien, dan inklusif.
“Pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi bagaimana kita memanfaatkan teknologi untuk membangun pengalaman belajar yang lebih baik. Dan saat ini, menuntut ilmu tidak lagi memiliki batasan karena di Pascasarjana Unilak, kami telah menerapkan hybrid learning, sebuah sistem pembelajaran yang memanfaatkan teknologi canggih guna mempermudah akses pendidikan bagi siapa saja, di mana saja,” ujar nya.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber inspiratif yang memberikan pemaparan tentang tantangan dan solusi dalam dunia pendidikan modern. Narasumber pertama, Dr. H. Muliardi, M.Pd., selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, membahas implikasi globalisasi terhadap pendidikan.
Dalam pemaparannya, Dr. Muliardi menyoroti perkembangan pesat teknologi, interdependensi global, serta dampak positif dan negatif yang menyertainya. Kepala kanwil itu juga menekankan pentingnya penguasaan empat kompetensi utama dalam menghadapi era globalisasi, yang dikenal sebagai 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication).
“Tanpa penguasaan kompetensi ini, para pendidik dan peserta didik akan tertinggal dalam persaingan global,” ujar Dr. Muliardi.
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Sekretaris Umum PGRI Provinsi Riau, Dr. Zulfikar, S.E., M.M., yang mewakili Ketua PGRI Provinsi Riau, Prof. Dr. Adolf Bastian, S.Pd., M.Pd. Dalam paparannya, Dr. Zulfikar mengupas isu-isu strategis pendidikan, termasuk permasalahan aktual yang memerlukan solusi inovatif dalam pengelolaan pendidikan.
Dr. Zulfikar menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemangku kepentingan pendidikan dalam menghadapi tantangan-tantangan baru di dunia akademik. Selain itu, dia juga menyampaikan berbagai kebijakan dari PGRI Provinsi Riau dalam memperjuangkan hak-hak guru di setiap kabupaten di Provinsi Riau.

PGRI terus mendorong peningkatan kesejahteraan guru, penyediaan pelatihan profesional yang berkelanjutan, serta advokasi terhadap kebijakan pendidikan yang lebih berpihak kepada tenaga pendidik.
“Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap guru di Riau mendapatkan hak-haknya dan mampu berkembang secara profesional dalam menghadapi tantangan global,” ujar Dr. Zulfikar.
Selain membahas isu-isu pendidikan global, seminar ini juga menjadi ajang sosialisasi Program Magister Pedagogi yang disampaikan oleh Ketua Program Studi, Dr. Marwa, S.Pd.I., M.A. Doktor muda itu menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan tenaga pendidik dalam mengembangkan kompetensi pedagogik yang adaptif dalam perkembangan dunia globalisasi saat ini.
“Dengan kurikulum yang berbasis riset dan teknologi, kami berkomitmen untuk mencetak lulusan yang mampu bersaing dalam dunia pendidikan yang terus berkembang,” tutur Dr. Marwa.
Seminar ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan adalah sebuah keniscayaan di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi. Perguruan tinggi, tenaga pendidik, dan pemangku kebijakan dituntut untuk lebih adaptif dalam menciptakan inovasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan adanya hybrid learning dan peningkatan kompetensi berbasis 4C, diharapkan dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di Riau, dapat terus berkembang dan berdaya saing tinggi di kancah global.

Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana peserta seminar mendapatkan kesempatan untuk menggali lebih dalam isu-isu pendidikan yang telah dipaparkan.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi,dan dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber. Seminar ini menjadi langkah maju dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berorientasi masa depan.