PEKANBARU – Ketua Program Studi Magister Ilmu Komputer Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (UNILAK), Dr. Susandri, M.Kom., turut memberikan pandangannya terkait pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang baru-baru ini menyarankan agar mahasiswa tidak terlalu bergantung pada teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan lebih memfokuskan diri pada penguatan proses pembelajaran manual.
Dalam wawancara eksklusif di ruang kerjanya di Gedung Sekolah Pascasarjana UNILAK, Dr. Susandri menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang dalam penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
“Teknologi seperti ChatGPT tentu sangat membantu dalam mempercepat akses informasi, tapi proses pembelajaran mendalam yang melibatkan analisis kritis dan penguatan memori tetap harus diutamakan,” ujar Dr. Susandri.
Menurut Dr. Susandri, teknologi kecerdasan buatan memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran, terutama dalam hal pencarian informasi dan referensi secara cepat. Namun, ia memperingatkan bahwa terlalu bergantung pada alat ini dapat mengurangi kemampuan analitis mahasiswa.
“Saat mahasiswa terlalu sering menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tugas, ada risiko mereka tidak mengembangkan keterampilan berpikir kritis secara optimal,” jelasnya.
Dia juga mendukung pandangan Wamen Stella tentang pentingnya memanfaatkan teknologi secara bijak.
“ChatGPT dan teknologi sejenisnya harus dianggap sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan analisis mendalam. Di Sekolah Pascasarjana UNILAK, kami selalu mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi sebagai pendukung, bukan sebagai tumpuan utama,” tegas Dr. Susandri.
Dr. Susandri menyatakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, pihaknya telah menekankan pembelajaran yang seimbang, yaitu menggunakan teknologi sebagai sarana akses informasi, tetapi tetap mengutamakan diskusi, riset mandiri, dan kemampuan analisis manual sebagai keterampilan yang tidak tergantikan oleh teknologi.
“Kami di Sekolah Pascasarjana UNILAK ingin menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki daya analisis dan pemahaman yang mendalam,” imbuhnya.
Sebagai penutup, Dr. Susandri berharap agar mahasiswa dapat memahami bahwa teknologi, terutama kecerdasan buatan, adalah alat yang sangat berguna jika digunakan secara proporsional dan bijak.
“Inti dari pendidikan adalah pembentukan karakter dan keterampilan berpikir, bukan sekadar mendapatkan jawaban instan. Kami mendukung apa yang disampaikan Wamen Stella, bahwa teknologi harus mendukung, bukan menggantikan, proses pembelajaran,” pungkasnya.
Pernyataan ini mencerminkan komitmen Sekolah Pascasarjana UNILAK dalam menciptakan generasi penerus yang siap menghadapi era digital tanpa kehilangan kualitas berpikir dan kemampuan analisis yang matang.