PEKANBARU — Program swasembada pangan dan energi yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto mendapatkan sambutan positif dari kalangan akademisi. Salah satu dukungan datang dari Dr. Mulono Apriyanto, STP., MP., Ketua Program Studi Magister Ilmu Pertanian di Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak).
Dalam pernyataannya, Dr. Mulono menyampaikan bahwa ketergantungan pangan dan energi Indonesia terhadap negara lain yang masih berlangsung sejak era Soeharto hingga saat ini merupakan tantangan besar bagi kedaulatan bangsa.
Dr. Mulono menyoroti bahwa selama bertahun-tahun, kebutuhan pangan masyarakat sebagian besar masih dipenuhi melalui impor.
“Swasembada pangan merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat dan keamanan suatu wilayah. Hal ini terliat di era presiden Suharto keamanan sangat terjaga hal ini salah satunya karena diera tersebut Indonesia dalam swasembada pangan. Bahkan PBB mengakui itu. Seiring peningkatan jumlah penduduk, alih fungsi lahan sawah dan rendahnya produktivitas padi. Sehingga pemenuhan kebutuhan pangan dilakukan melalui impor beras, meskipun diera presiden Jokowi sudah mulai berkurang volume eksport bahkan pernah terjadi swasembada pangan. Hal penting yang meski dijaga dan ditingkatkan dari swasembada pangan adalah guna menghindari kerentanan krisis pangan global,” ungkap Dr. Mulono.

Selain itu, dia juga berpandangan bahwa di sektor energi, ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat Indonesia bergantung pada negara lain.
“Sumber energi kita masih mengandalkan minyak bumi, yang jelas semakin berkurang. Ini mengancam ketahanan energi kita,” lanjutnya.
Dr. Mulono memaparkan ada tiga langkah strategis untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Yang pertama yaitu dengan menjaga stabilitas produksi pangan, hal ini penting untuk memastikan produksi pangan nasional stabil dan mampu memenuhi kebutuhan domestik tanpa tergantung pada impor.
Yang kedua, meningkatkan produktivitas padi, produktivitas padi perlu ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi dan metode pertanian modern agar hasil panen maksimal.
Dan yang ketiga yaitu menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran pangan, Dr. Mulono menekankan bahwa selain harga pangan agar tidak jatuh pada saat panen raya, penting juga untuk menjaga agar permintaan dan penawaran pangan berada dalam keseimbangan. Ini mencakup upaya mengurangi pemborosan, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga dalam kondisi stabil, sehingga ketergantungan pada pasokan luar negeri bisa ditekan.
Untuk mencapai swasembada energi, Dr. Mulono mengusulkan langkah-langkah yang sejalan dengan kebijakan pemerintah saat ini, seperti, mengembangkan hilirisasi energi terbarukan, dengan pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan melalui kebijakan B50 adalah langkah penting dalam mewujudkan kemandirian energi. Hal ini perlu terus didukung melalui pengolahan produk turunan kelapa sawit di dalam negeri.
Yang kedua yaitu meningkatkan efisiensi produksi energi, Di sektor hulu, Dr. Mulono menekankan pentingnya peningkatan produktivitas yang rendah biaya untuk menjaga ketersediaan energi dalam jangka panjang.
Dan yang ke tiga yaitu dengan diversifikasi sumber energi terbarukan, Dr. Mulono menekankan perlunya memperluas sumber energi terbarukan lainnya,untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan diversifikasi ini, Indonesia dapat membangun ketahanan energi yang lebih stabil dan ramah lingkungan.
Sebagai Ketua Program Studi Magister Ilmu Pertanian di Sekolah Pascasarjana Unilak, Dr. Mulono menyatakan dukungan penuh terhadap visi Prabowo ini. Menurutnya, Unilak telah menyediakan berbagai program peminatan di Pascasarjana Ilmu Pertanian yang mendukung pencapaian swasembada pangan dan energi. Seperti :
Peminatan Agroteknologi: Berfokus pada pengelolaan lahan, peningkatan produksi, dan penyediaan sarana untuk mendukung stabilitas pangan nasional.












