Perbaikan Komprehensif Pengelolaan MBG Jadi Fokus Utama untuk Jamin Mutu dan Gizi

PEKANBARU – Perbaikan menyeluruh dalam proses pengelolaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses distribusi, menjadi langkah krusial untuk memastikan mutu pangan dan gizi yang disajikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus utama perbaikan ini adalah penerapan sistem HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) yang menjadi standar utama dalam pengolahan dan distribusi makanan.
Namun, dalam praktiknya, masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Di antaranya adalah tim penjamah makanan yang belum sepenuhnya tersertifikasi sesuai standar HACCP serta keterbatasan ilmu dan pemahaman tentang proses pengolahan pangan dan distribusi yang dimiliki oleh tim penyedia MBG.
Hal ini dinilai menjadi titik lemah yang perlu segera diperbaiki demi kelancaran dan keamanan program yang sangat strategis bagi kesehatan anak-anak di berbagai daerah.
Assoc. Prof. Dr. Mulono Apriyanto, S.T.P., M.P., pakar di bidang ilmu pangan sekaligus Ketua Program Studi Magister Ilmu Pertanian di Universitas Lancang Kuning (UNILAK), menyatakan bahwa perbaikan manajemen pengelolaan makanan harus dilakukan secara menyeluruh.
“Pengelolaan mulai dari seleksi bahan baku, proses pengolahan yang mengacu pada standar HACCP, hingga distribusi makanan harus diawasi ketat untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan,” ujarnya.
Dr. Mulono menjelaskan bahwa kendala utama adalah kurangnya tenaga yang tersertifikasi HACCP dan masih minimnya pengetahuan teknis tentang proses pengolahan dan distribusi yang benar.
“Tim penjamah makanan harus mendapatkan pelatihan dan sertifikasi yang memadai agar mampu menjalankan protokol keamanan pangan dengan tepat. Selain itu, pemahaman yang baik atas seluruh rantai distribusi makanan juga wajib dimiliki agar kualitas gizi dapat terjaga sampai ke penerima akhir,” tambahnya.
Menurutnya, kolaborasi dan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku lapangan sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta membangun sistem pengawasan yang transparan dan akuntabel.
“Pendidikan berkelanjutan dan evaluasi rutin harus menjadi bagian integral dari program agar MBG dapat berjalan efektif dan berkelanjutan, tidak sekadar memenuhi target jumlah makanan tapi juga berkontribusi pada kesehatan optimal anak-anak Indonesia,” pungkasnya.
Dengan upaya perbaikan yang sudah mulai dijalankan dan komitmen kuat dari berbagai pihak, diharapkan Program MBG akan semakin baik, aman, dan berdampak positif dalam memberikan asupan gizi yang layak bagi generasi muda bangsa.