PEKANBARU – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital, data telah bertransformasi menjadi aset yang sangat berharga, bahkan sering kali disebut sebagai “minyak baru” (the new oil) di era modern. Masifnya aktivitas Masyarakat, mulai dari transaksi keuangan, perdagangan elektronik (e-commerce), pendidikan, kesehatan, hingga layanan pemerintahan yang kini memproduksi data dalam skala raksasa.
Merespons fenomena tersebut, Dosen Program Studi Magister Ilmu Komputer Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), Dr. Ahmad Zamsuri, M.Kom, memberikan ulasan kritisnya mengenai pentingnya kesadaran keamanan data dan penguatan sistem komputasi, khususnya bagi para inovator muda Indonesia.
Menurut Dr. Ahmad Zamsuri, kedaulatan data bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan pilar penting penentu daya saing bangsa. Kedaulatan data mengacu pada kemampuan suatu negara, organisasi, atau individu untuk mengendalikan, melindungi, dan memanfaatkan data yang dimilikinya sesuai dengan hukum dan kepentingan nasional.
“Tanpa kesadaran yang memadai terhadap keamanan data, inovasi digital yang dibangun oleh generasi muda dapat menghadapi berbagai risiko fatal. Mulai dari kebocoran data, pencurian identitas, serangan siber, hingga penyalahgunaan informasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Dr. Ahmad Zamsuri saat diwawancarai mengenai arah implementasi kebijakan ekonomi digital nasional.
Beliau memaparkan lima alasan utama mengapa aspek keamanan sistem ini wajib diperketat oleh inovator muda: untuk membangun kepercayaan pengguna sebagai fondasi bisnis digital, melindungi kekayaan intelektual dan algoritma dari pembajakan, serta mencegah kerugian ekonomi besar akibat serangan siber.
Selain itu, sistem yang kuat merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), sekaligus menjadi motor untuk mendorong kemandirian teknologi nasional agar mampu bersaing di kancah global.
Lebih lanjut, pakar ilmu komputer Pascasarjana Unilak ini menekankan pentingnya perubahan paradigma di kalangan pengembang teknologi muda dalam merancang sebuah sistem.
“Para inovator muda perlu membangun budaya security by design. Artinya, kita harus menjadikan keamanan sebagai bagian fundamental dari proses perancangan sistem sejak awal, bukan sekadar suplemen atau tambahan setelah produk teknologi itu selesai dibuat,” tegasnya.
Dr. Ahmad Zamsuri juga menambahkan bahwa kompetensi di bidang keamanan siber (cybersecurity), komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab, enkripsi data, serta tata kelola data (data governance) merupakan keahlian tingkat tinggi yang harus terus dikembangkan dan diadopsi di dalam lingkungan akademik perguruan tinggi, termasuk di Magister Ilmu Komputer Unilak.
Di akhir ulasannya, beliau mengingatkan bahwa esensi dari transformasi digital yang sukses terletak pada aspek ketahanan dan keamanannya.
“Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita berinovasi, tetapi juga oleh seberapa baik kita mampu menjaga keamanan, privasi, dan kedaulatan data. Inovasi yang aman akan menciptakan kepercayaan, keberlanjutan, dan daya saing bangsa di era ekonomi digital global,” pungkas Dr. Ahmad Zamsuri.
Melalui pandangan strategis ini, Sekolah Pascasarjana Unilak berkomitmen untuk terus menyelaraskan kurikulumnya dengan kebutuhan industri digital global. Dengan demikian, lulusan Magister Ilmu Komputer Unilak tidak hanya unggul sebagai inovator teknologi yang kompetitif, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam menjaga keamanan data demi kemajuan dan kedaulatan bangsa.