Direktur PT Gudang Garam Tbk Akui Industri Rokok Nasional Sedang Krisis

JAKARTA – Industri rokok di Indonesia saat ini dianggap tidak dalam kondisi baik. Istata Siddharta, Direktur PT Gudang Garam Tbk (GGRM), menyatakan bahwa penurunan kinerja tidak hanya dialami oleh Gudang Garam, tetapi juga hampir semua pemain dalam industri rokok nasional. Dikutip dari CNA pada Jum’at (12/9/2025).
Pada paruh pertama tahun 2025, Gudang Garam mencatatkan penurunan laba bersih yang signifikan hingga 87,3 persen menjadi Rp117,16 miliar, dibandingkan dengan Rp915,51 miliar di periode yang sama tahun lalu.
“Yang mengalami penurunan laba dan boleh dibilang krisis seperti ini bukan hanya Gudang Garam. Industri tembakau di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi yang tidak sehat,” ungkap Istata dalam acara Public Expose Live secara virtual, pada Kamis (11/9).
Perusahaan rokok besar ini juga tengah menghadapi isu terkait pemutusan hubungan kerja yang telah dibantah dengan tegas.
PERSAINGAN DENGAN ROKOK ILEGAL
Istata menggarisbawahi adanya sigaret kretek mesin (SKM) yang dijual tanpa pita cukai atau dengan pajak yang tidak tepat yang banyak beredar di pasar. Produk ilegal ini tidak dikenakan pajak, sehingga harganya jauh lebih rendah dibandingkan rokok yang legal.
“Kalau bisa, pembeli pasti mencari SKM dengan cukai nol, daripada sigaret kretek tangan (SKT) dengan cukai Rp 6.600, apalagi SKM dengan cukai Rp 19.000,” jelasnya.
Dia mengungkapkan bahwa permasalahan rokok ilegal kini menjadi tantangan utama bagi sektor industri. Sebagai pelaku bisnis swasta, Gudang Garam tidak memiliki kuasa hukum untuk menanggulangi peredaran rokok tanpa cukai tersebut.
“Paling ideal itu, penindakan rokok ilegal bukan hanya soal hukum, tapi bagaimana pemerintah membuat peraturan cukai yang memungkinkan industri pulih dan bisa bersaing setara,” tambahnya.
STRATEGI GUDANG GARAM
Meskipun menghadapi beragam tantangan, Istata tetap optimis bahwa pemerintah akan memberikan perhatian pada situasi ini. Ia menyampaikan harapannya akan adanya perubahan dalam struktur penentuan pajak dan tindakan tegas terhadap peredaran rokok ilegal.
“Kami optimis pemerintah akan melakukan perubahan yang diperlukan untuk memperbaiki struktur cukai dan menindak rokok ilegal. Dengan itu, kami berharap industri menjadi lebih sehat dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.
Heru Budiman, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, menambahkan bahwa perusahaan terus berusaha mempertahankan pangsa pasar di tengah pergeseran preferensi konsumen ke produk yang lebih terjangkau.
“Yang sekarang kita lakukan adalah menjaga volume penjualan dan market share agar tidak hilang percuma, meski penurunan volume menyebabkan laba ikut turun,” ujarnya.
Sejak tahun 2024, Gudang Garam memperluas pilihan produk di segmen SKT untuk memenuhi permintaan konsumen yang mencari rokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Heru menekankan bahwa pemulihan pangsa pasar tidak dapat hanya bergantung pada penurunan harga, tetapi juga memerlukan regulasi pajak yang adil.
“Market share yang hilang tidak otomatis kembali hanya karena harga normal. Kalau semua produk memenuhi ketentuan pita cukai, pasar akan lebih setara,” jelasnya.
Selain mempertahankan produk konvensional, Gudang Garam mulai mengeksplorasi peluang usaha di segmen rokok elektrik.
Heru menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan uji coba untuk memasuki pasar rokok elektrik. Namun, kontribusi dari bisnis ini dirasa masih terbatas karena segmen pasarnya relatif kecil dan lebih dominan di kelas menengah ke atas.
“Tidak terlalu banyak yang diharapkan karena rokok elektrik ini lebih banyak di level menengah ke atas,” tutupnya. Tulis (Mo).