JAKARTA – Yahya Cholil Staquf (GusYahya) membantah isu tentang perpecahan dan adanya dua kepemimpinan setelah rapat penuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel The Sultan, Jakarta, pada malam Selasa, 9 Desember 2025. Dikutip dari Metrotv pada Rabu (10/12/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Zulfa Mustofa ditunjuk sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU. Gus Yahya menegaskan bahwa kepemimpinan ganda di PBNU tidak mungkin terjadi. Ia mengakui keabsahan keputusan yang dihasilkan dari rapat itu.
“Tidak, tidak mungkin ada dua (Ketum), tidak mungkin ada dua,” ujar Gus Yahya.
Gus Yahya juga menyatakan bahwa rapat pleno tersebut tidak sah.
“Kalau plenonya tidak sah, bagaimana bisa dianggap sah? ” tambah Gus Yahya.
Ia juga menanggapi kekhawatiran akan adanya perpecahan di kalangan basis anggota. Menurutnya, anggota Nahdliyin tidak menginginkan adanya organisasi yang terpecah.
“Ah, tidak. . . sekarang ini, di kalangan bawah, semua orang tidak ingin NU terpecah, tidak ada. Tidak ada yang menginginkan NU pecah,” tegas Gus Yahya.
Ia menyampaikan bahwa para kiai, pesantren, dan cabang-cabang (PCNU) secara kolektif telah mengirimkan surat. Surat tersebut berisi permohonan untuk menyatukan kembali NU.
“Mereka biasanya enggak jarang-jarang bikin surat saja pada bikin surat sekarang meminta supaya jangan sampai pecah. Cabang-cabang juga sudah tidak terhitung pada kirim surat supaya bersatu kembali. Semua enggak ada yang mau pecah. Ya, insyaallah lah ya,” ungkap Gus Yahya.
Selain itu, Gus Yahya juga menyoroti sumber masalah di PBNU yang terkait dengan isu pertambangan.
“Masalah itu soal manuvering, ya namanya manuvering, opini ini biasalah. Ya. Nanti insyaallah ada jalan keluar,”tutup Gus Yahya. Tulis (Mo).