Kupas Tuntas Tantangan Guru Dalam Menghadapi Generasi Z/Alpha Bersama Dr. Marwa

PEKANBARU – Seminar Nasional Magister Pedagogi Innovation and Sustainability in Pedagogical Research and Education (Semnas Inspire) sukses sudah digelar Sabtu, 8 Februari 2025.
Seminar ini membawa gebrakan dan pemahaman baru dalam dunia pendidikan. Tahun ini, acara bergengsi tersebut mengusung tema futuristik “Cyber-Education: Integrating Artificial Intelligence for Today’s Learning”, yang menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah lanskap pembelajaran. Dengan pendekatan inovatif dan berbasis riset, seminar ini menjadi wadah bagi para akademisi, praktisi pendidikan, dan mahasiswa untuk mengeksplorasi strategi mutakhir dalam menghadapi era digital yang kian dinamis.
Acara yang dihadiri oleh para akademisi, praktisi pendidikan, serta mahasiswa ini menghadirkan narasumber inspiratif, Dr. Marwa, S.Pd.I., M.A., yang merupakan ketua program studi Magister Pedagogi Sekolah Pascasarjana dan juga seorang akademisi muda yang dikenal atas pemikirannya yang progresif dalam bidang pedagogi. Dalam seminar ini, Dr. Marwa membawakan materi bertajuk “Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha”, yang menyoroti bagaimana teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), dapat menjadi alat utama dalam menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan relevan bagi generasi digital-native.
Dalam pemaparannya, akademisi muda berbakat yang memiliki darah Malaysia ini menjelaskan bahwa Generasi Z (lahir 1996–2010) dan Generasi Alpha (lahir 2011–2025) memiliki karakteristik unik yang menuntut perubahan paradigma dalam dunia pendidikan. “Mereka adalah digital-native yang terbiasa dengan teknologi sejak dini, cepat bosan, kritis, serta berorientasi global. Oleh karena itu, peran guru tidak lagi sebatas penyampai ilmu, melainkan fasilitator yang mampu mengelola teknologi sebagai alat pembelajaran yang efektif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Marwa menekankan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan tidak hanya sebatas penggunaan media digital, tetapi juga melibatkan penerapan metode pembelajaran inovatif, seperti Project-Based Learning (PBL), Blended Learning, serta pendekatan berbasis gamifikasi. “AI dalam pendidikan bisa membantu guru dalam menganalisis pola belajar siswa, memberikan materi yang dipersonalisasi, serta meningkatkan efektivitas evaluasi pembelajaran,” tambahnya.
Selain Dr. Marwa, seminar ini juga menghadirkan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A., seorang pakar pendidikan dan teknologi yang memberikan wawasan mendalam tentang integrasi AI dalam dunia pendidikan.
Dalam pemaparannya, Prof. Richardus menjelaskan bahwa teknologi diciptakan oleh manusia untuk mengatasi keterbatasan. Namun, ia juga menegaskan bahwa teknologi bersifat netral—kebermanfaatan atau keberbahayaannya sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya.
Dalam konteks pendidikan, Prof. Richardus menekankan bahwa AI dapat menjadi mitra guru dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih personal dan efektif. Namun, ia juga mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, dan peran manusia tetap menjadi kunci utama dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter.
Kemudian dilanjutkan dengan materi disampaikan oleh Francisca Maria Ivone, S.Pd., M.A., Ph.D., dosen dari Universitas Negeri Malang. Beliau membahas topik sesuai dengan materi yang ditampilkan dalam presentasi, yang mencakup [ringkasan isi materi dari PPT]. Dalam paparannya, beliau menyoroti [poin utama materi], memberikan wawasan mendalam serta contoh-contoh aplikatif yang relevan dengan bidang kajian.
Melalui pemaparan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif serta mampu menerapkan konsep-konsep yang telah disampaikan dalam konteks akademik maupun profesional mereka.

Seminar ini juga membahas pentingnya penguatan kompetensi guru dalam bidang teknologi agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan Learning Management Systems (LMS) seperti Google Classroom, serta berbagai platform interaktif lainnya. Dr. Marwa pun menekankan bahwa meskipun teknologi semakin dominan, nilai-nilai humanis tetap harus menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran.
Acara Semnas Inspire 2025 ini mendapat respons positif dari peserta yang merasa terinspirasi oleh pemaparan Dr. Marwa. Banyak di antara mereka yang mengakui pentingnya beradaptasi dengan perubahan zaman serta mengembangkan keterampilan pedagogi yang lebih inovatif.
Dengan semakin pesatnya perkembangan AI dalam dunia pendidikan, seminar ini menjadi momentum bagi para pendidik untuk terus memperbarui wawasan dan keterampilan mereka dalam menghadapi tantangan era digital. Semnas Inspire 2025 bukan hanya sekadar forum akademik, tetapi juga katalis bagi transformasi pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.